Bantaeng, behzad.id – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot hingga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah (all-time low). Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), mata uang Garuda sempat terjun bebas ke level Rp16.988 sebelum akhirnya ditutup di angka Rp16.950.
Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat luas, terutama terkait potensi kenaikan harga barang pokok di pasar. Sejak awal tahun 2026, Rupiah tercatat sudah melemah sebesar -1,5%, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di antara negara-negara berkembang.
Menkeu Purbaya: “Semalam Dua Malam Selesai”
Menanggapi gejolak ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim sebenarnya mengetahui cara jitu untuk menghentikan kejatuhan Rupiah dalam waktu singkat.
“Saya tahu betul alasannya kenapa (rupiah melemah) dan memperbaikinya dua hari, semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan bank sentral,” ujar Purbaya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).
Meski mengaku punya solusinya, Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak bisa melangkahi wewenang Bank Indonesia (BI) yang memiliki mandat menjaga stabilitas nilai tukar. Ia pun meminta publik untuk menanyakan detail teknis kepada pihak bank sentral agar tidak terjadi kegaduhan.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Para investor dan pelaku pasar mulai khawatir setelah muncul isu mengenai berkurangnya independensi Bank Indonesia. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menekan Rupiah:
-
Isu Independensi BI: Adanya wacana DPR untuk memperluas mandat BI dan wewenang pemberhentian Gubernur BI oleh legislatif.
-
Kesehatan Fiskal: Rencana peninjauan ulang UU Keuangan Negara yang berpotensi melonggarkan batas defisit anggaran (saat ini maksimal 3% dari PDB).
-
Tren Sejak 2025: Sepanjang tahun lalu, Rupiah sudah melemah -3,5% meskipun indeks dolar AS sebenarnya sedang turun.
Komitmen Pemerintah dan BI
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan batas defisit anggaran. Di sisi lain, Bank Indonesia menyatakan tetap fokus pada tugas utamanya untuk menstabilkan kurs dan akan mengumumkan kebijakan moneter terbaru pada Rabu (21/1/2026).
Menteri Purbaya juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, karena menurutnya sistem keuangan Indonesia sudah mulai terbiasa dengan fluktuasi nilai tukar.












