Jakarta, 29 Oktober 2025 – behzad.id
Data resmi Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan angka mengejutkan: 45.426 pekerja di Indonesia kehilangan pekerjaan sepanjang tahun 2025. Lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja nasional yang masih rentan terhadap gejolak ekonomi global dan transformasi industri.
Lonjakan PHK Sepanjang 2025
Menurut data yang dirilis Kemnaker, jumlah korban PHK pada tahun ini melonjak dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sebagian besar pemutusan hubungan kerja terjadi di sektor manufaktur, tekstil, dan industri padat karya, yang menghadapi tekanan akibat:
- Penurunan pesanan ekspor,
- Kenaikan harga bahan baku, dan
- Efisiensi besar-besaran oleh perusahaan untuk menekan biaya produksi.
“Data Satu Data Kemnaker mencatat hingga Oktober 2025, total 45.426 pekerja terkena PHK. Ini menjadi perhatian serius pemerintah karena berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujar salah satu pejabat Kemnaker saat dikonfirmasi, Rabu (29/10).
Sektor yang Paling Banyak Melakukan PHK
Berdasarkan data Kemnaker, berikut sektor dengan jumlah PHK tertinggi sepanjang 2025:
Sektor Industri Jumlah Korban PHK Manufaktur & Tekstil 17.800 orang Ritel & E-commerce 9.200 orang Teknologi & Startup 6.500 orang Konstruksi & Properti 4.900 orang Transportasi & Logistik 3.800 orang Lain-lain (Jasa & UMKM) 3.226 orang
Total: 45.426 orang
📉 Sumber: Satu Data Kemnaker, 2025
Penyebab Utama Lonjakan PHK
Kemnaker mengidentifikasi beberapa penyebab utama meningkatnya PHK tahun ini:
- Perlambatan ekonomi global, yang berdampak pada sektor ekspor dan industri padat karya.
- Otomatisasi dan digitalisasi industri, menyebabkan pergeseran tenaga kerja dari posisi konvensional ke posisi teknologi.
- Kenaikan biaya energi dan logistik, yang menekan margin keuntungan perusahaan.
- Krisis bahan baku impor akibat gangguan rantai pasokan dunia.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kenaikan angka PHK sebesar ini membawa dampak nyata terhadap stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
Beberapa daerah industri seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten mencatat peningkatan pengangguran terbuka hingga 8–10%.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan pendaftaran program bantuan sosial dan kartu prakerja selama kuartal ketiga 2025.
Langkah Antisipasi Pemerintah
Menanggapi kondisi tersebut, Kemnaker menyiapkan serangkaian langkah mitigasi:
- Mendorong program reskilling dan upskilling tenaga kerja terdampak PHK.
- Memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dalam menciptakan lapangan kerja baru.
- Meningkatkan akses pelatihan digital dan vokasi berbasis kebutuhan industri.
- Memastikan perusahaan yang melakukan PHK tetap memenuhi kewajiban pesangon dan hak pekerja sesuai undang-undang.
Suara dari Dunia Usaha
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, tekanan global menjadi salah satu penyebab utama efisiensi massal.
“Banyak perusahaan menghadapi situasi sulit akibat melemahnya permintaan. Kami harap stimulus ekonomi dan kemudahan usaha bisa membantu menekan angka PHK,” kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo dalam keterangan tertulis.
Infografik: Peta PHK di Indonesia 2025
📍 Sebaran Korban PHK Berdasarkan Wilayah
- Jawa Barat: 14.220 orang
- Jawa Tengah: 9.860 orang
- Banten: 6.710 orang
- DKI Jakarta: 4.900 orang
- Jawa Timur: 4.300 orang
- Lainnya (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi): 5.436 orang
Kesimpulan
Tahun 2025 menjadi alarm bagi pemerintah dan dunia industri. Lonjakan 45.426 korban PHK menunjukkan perlunya kebijakan tenaga kerja yang lebih adaptif dan dukungan ekonomi yang konkret.
Transformasi digital dan efisiensi bisnis harus diimbangi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar mereka tetap relevan di pasar kerja yang berubah cepat.
Editor: Redaksi Behzad.id
Tanggal: 29 Oktober 2025
Tagar SEO: #PHK2025 #Kemnaker #TenagaKerja #EkonomiIndonesia #Pengangguran #Manufaktur #Digitalisasi












