Makassar — Di balik sosok tenang dan berwibawa seorang Sekretaris Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar, tersimpan perjalanan panjang penuh dedikasi dan cinta terhadap profesi serta keluarga. SRI MULIATI, S.Sos., M.H., perempuan kelahiran Sengkang, 1971, adalah contoh nyata bagaimana ketekunan dan keseimbangan antara karier dan keluarga dapat berjalan seiring.
Sejak awal perjalanan kariernya, Sri Muliati menunjukkan komitmen tinggi pada dunia hukum dan administrasi negara. Ia memulai langkahnya sebagai Staf di Lembaga Permasyarakatan Takalar pada tahun 1991, kemudian kembali memperkuat posisinya di tahun 1993 dengan jabatan serupa. Berkat ketekunan dan integritasnya, kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Kepala Sub Bagian Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar pada 21 November 2006.
Puncak dedikasinya terlihat ketika beliau diangkat sebagai Sekretaris Pengadilan Tata Usaha Negara Makassar sejak 28 Desember 2015, posisi yang terus diembannya dengan penuh tanggung jawab hingga kini. Dalam kesehariannya, Sri Muliati dikenal sebagai sosok pemimpin yang hangat, disiplin, dan menjadi panutan bagi rekan-rekan sejawatnya.
Pendidikan dan Keteladanan
Sri Muliati menempuh pendidikan S-1 Sosiologi di Universitas Sawerigading (UNSA) Makassar (1996), lalu melanjutkan S-2 Ilmu Hukum di Universitas Indonesia Timur (2014). Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Sengkang, dari SDN Sengkang (1983), SMPN 2 Sengkang (1986), hingga SMAN Sengkang (1989).
Baginya, pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk karakter dan profesionalisme. “Belajar itu tidak berhenti di bangku kuliah. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Keluarga: Sumber Kekuatan
Di balik karier gemilangnya, ada dukungan luar biasa dari sang suami, Dr. Suprapto, Bc.IP., S.H., M.H., serta empat buah hati tercinta:
-
Bagus Ramadian Permana
-
Bagas Indra Kusuma
-
Alif Candra Putra
-
Muhammad Fauzan
Sri Muliati sering mengatakan bahwa keluarga adalah motivasi terbesarnya untuk terus berprestasi. “Mereka adalah alasan saya kuat. Dalam setiap tugas dan tantangan, saya selalu ingat untuk pulang dengan hati penuh syukur,” tuturnya dengan mata berbinar.
Antara Tanggung Jawab dan Cinta
Dalam karier panjangnya di dunia peradilan, Sri Muliati membuktikan bahwa menjadi perempuan berkarier tidak berarti melupakan kodrat sebagai istri dan ibu. Justru, ia menjadikan kedua peran itu sebagai kekuatan utama dalam setiap langkahnya.
“Perempuan bisa berdiri sejajar dengan laki-laki tanpa kehilangan kelembutan hatinya. Kuncinya adalah keseimbangan antara tanggung jawab dan cinta,” ucapnya bijak.
Kisah hidup Sri Muliati adalah cermin keteguhan, kesederhanaan, dan dedikasi seorang perempuan yang mampu menaklukkan dunia profesional tanpa kehilangan kehangatan sebagai seorang ibu dan istri.
Sebuah kisah inspiratif tentang “Antara Karier, Kau, dan Sibuah Hati” — yang akan terus menginspirasi generasi perempuan Indonesia untuk berani bermimpi dan berjuang tanpa batas.












