Jakarta, Rabu (5/11/2025) — Dunia kripto kembali diguncang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, harga Bitcoin (BTC) jatuh di bawah US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar per koin. Kejadian ini memicu kepanikan di kalangan investor pemula yang baru masuk pasar aset digital.
Namun, di balik anjloknya harga ini, para analis menyebut bahwa “kepanikan bisa menjadi peluang” — asal tahu cara membacanya.
Bitcoin Turun Tajam: Dari Puncak ke Dasar
Data dari CoinMarketCap menunjukkan, harga Bitcoin sempat menembus level US$99.800 pada Selasa malam waktu New York. Padahal, hanya sebulan lalu, Bitcoin sempat bertengger di level tertinggi sepanjang tahun yakni US$126.000.
Artinya, dalam empat minggu terakhir, Bitcoin sudah terkoreksi sekitar 20–22%.
Analis pasar kripto menyebut, penurunan ini dipicu oleh:
-
Ketidakpastian kebijakan suku bunga AS dari Federal Reserve.
-
Aksi jual besar-besaran di pasar futures dan leverage trading.
-
Investor institusional yang mulai melakukan profit taking setelah reli panjang.
“Pasar kripto sedang dalam fase pendinginan setelah euforia panjang,” ujar Rizal Pratama, analis kripto dari Digital Asset Watch.
“Bagi investor pemula, ini bukan waktu untuk panik, tapi waktu untuk belajar membaca momentum,” tambahnya.
Apa Arti Penurunan Ini Bagi Investor Pemula?
Meski tampak menakutkan, banyak investor berpengalaman justru menilai momen seperti ini sebagai ‘diskon besar’ untuk aset digital jangka panjang.
Berikut tiga hal yang perlu diperhatikan investor pemula:
-
Jangan Panik, Tapi Pahami Volatilitasnya
Bitcoin dikenal sangat fluktuatif. Naik-turun puluhan persen dalam hitungan hari adalah hal biasa. Kuncinya: jangan terburu menjual hanya karena harga turun. -
Gunakan Strategi DCA (Dollar-Cost Averaging)
Alih-alih membeli sekaligus, investor bisa membeli sedikit demi sedikit setiap minggu atau bulan. Strategi ini membantu menyeimbangkan harga beli di tengah pasar yang bergejolak. -
Jaga Rasio Investasi Aman
Gunakan hanya dana dingin — uang yang tidak mengganggu kebutuhan pokok. Hindari berutang untuk membeli aset kripto.
Prediksi Jangka Pendek: Akankah Bitcoin Rebound?
Sejumlah analis memperkirakan Bitcoin berpotensi rebound ke kisaran US$110.000–115.000 jika tekanan jual mereda dan pasar kembali stabil.
Namun, jika sentimen negatif terus berlanjut, BTC bisa turun lagi hingga US$95.000 sebelum membentuk support baru.
“Investor yang sabar biasanya akan diuntungkan. Setelah koreksi besar, Bitcoin sering kembali naik dalam 3–6 bulan berikutnya,” ujar Meutia Halim, analis dari Crypto Insight Asia.
Kesimpulan: Turun Sekarang, Tapi Potensi Masih Besar
Penurunan Bitcoin di bawah US$100.000 memang mengguncang pasar. Tapi bagi investor pemula yang berpikir jangka panjang, ini bisa jadi pintu masuk yang tepat — asalkan dilakukan dengan strategi dan disiplin.
Jangan terpancing emosi pasar. Sebaliknya, gunakan momen ini untuk belajar, mengatur portofolio, dan memahami risiko.
Catatan Redaksi Behzad.id
Investasi kripto memiliki risiko tinggi dan tidak dijamin oleh otoritas keuangan mana pun. Pastikan Anda melakukan riset sendiri sebelum membeli atau menjual aset digital. Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi.












