Hari Pahlawan 2025: Di Mata Dwiana Pamuji Astutik, Pahlawan Wanita Itu Bukan Tentara, Tapi…

Photo diambil dari IG : dwiana_pa

MAKASSAR – Setiap 10 November, bangsa kita mengenang jasa para pahlawan yang berjuang di medan perang. Namun di era teknologi dan tantangan modern ini, siapa sebenarnya pahlawan kita? Jawabannya mungkin bisa ditemui dalam sosok Dwiana Pamuji Astutik, seorang perempuan yang membuktikan bahwa medan perang kini ada di mana-mana, dan kepahlawanan bisa dilakukan oleh siapa saja yang punya hati untuk melayani.

Bagi warga Makassar, nama Dwiana bukanlah sekadar tokoh publik. Ia adalah representasi nyata dari seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang berkiprah di tiga ranah sekaligus: kemanusiaan, bisnis, dan politik.

Medan Perang Pertama: Garis Depan Kemanusiaan di PMI Makassar

Di tengah hiruk pikuk kesibukannya, Dwiana memilih berada di garis depan saat bencana datang. Sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Makassar, ia adalah panglima di medan perang kemanusiaan. Ia tak mengenakan seragam tentara, melainkan rompi relawan. Senjatanya bukan senapan, melainkan empati dan kemampuan menggerakkan solidaritas.

“Bagi saya, kemanusiaan adalah bahasa universal. Siapa pun bisa berbicara lewat tindakan nyata,” ujarnya, menyiratkan bahwa kepahlawanan sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan orang lain dan bertindak untuk meringankannya. Di era di mana informasi hoaks cepat menyebar, tindakannya yang nyata ini menjadi benteng ketahanan sosial yang tak ternilai.

Medan Perang Kedua: Membangun Ekonomi dan Memberdayakan

Seorang pahlawan juga membangun kekuatan dari dalam. Itu yang dilakukan Dwiana di dunia usaha. Sebagai pengusaha perempuan, ia membangun kerajaannya dari nol, bukan hanya untuk keuntungan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang bagi perempuan lain.

Ia membawa prinsip bahwa dunia usaha harus punya hati. Melalui jaringan bisnisnya, ia secara aktif mendukung program pemberdayaan perempuan dan kegiatan sosial. Ini adalah bentuk kepahlawanan ekonomi: memerangi kemiskinan dan ketidaksetaraan bukan dengan pemberian, melainkan dengan menciptakan peluang.

Medan Perang Ketiga: Panggung Politik yang Memanusiakan

Mungkin ini adalah medan perang yang paling berliku. Namun Dwiana membawa misi khusus: menghadirkan “politik yang memanusiakan”. Baginya, panggung politik bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk memperjuangkan nasib banyak orang, terutama perempuan.

Ia berjuang agar suara perempuan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi keputusan yang berpengaruh. “Perempuan punya naluri kepemimpinan yang kuat, karena di setiap langkahnya ada kepekaan dan empati,” tuturnya. Di era di mana perempuan seringkali menjadi objek, Dwiana memposisikan mereka sebagai subjek yang mampu menentukan arah perubahan.

Pahlawan untuk Perempuan Makassar Masa Kini

Kisah Dwiana Pamuji Astutik menjadi cerminan bagi setiap perempuan di Makassar dan Indonesia. Ia membuktikan bahwa seorang perempuan bisa menjadi pahlawan di rumahnya, di komunitasnya, dan di panggung nasional tanpa harus kehilangan kelembutan hatinya.

Di Hari Pahlawan ini, marilah kita mengevaluasi kembali arti kepahlawanan. Pahlawan tak lagi harus gugur di Surabaya. Pahlawan bisa jadi adalah seorang ibu yang mendidik anak-anaknya menjadi orang baik, seorang pengusaha yang memberdayakan tetangganya, atau seorang relawan yang tak kenal lelah membantu korban bencana.

Dwiana telah menunjukkan jalan. Kini, giliran kaum perempuan Makassar untuk menemukan “medan perang” mereka sendiri dan menjadi pahlawan di lingkungan masing-masing. Karena Indonesia Emas akan terwujud jika jutaan pahlawan kecil bangkit dari setiap rumah tangga.

Siapa pahlawan inspiratif di sekitar Anda? Bagikan ceritanya di kolom komentar sebagai bentuk apresiasi kita di Hari Pahlawan ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *