MAKASSAR, Behzad.id – Setiap tanggal 5 Desember, dunia memperingati Hari Relawan Internasional. Ini adalah momen untuk memberi penghormatan kepada mereka yang tanpa lelah bekerja di belakang layar, mengorbankan waktu dan tenaga demi kebaikan bersama. Namun, di balik perayaan global ini, ada sosok-sosok nyata yang menjadikan semangat kerelawanan sebagai nafas kehidupan.
Salah satunya adalah Hj. Dwiana Pamuji Astutik. Di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan, ia memilih jalan yang tak biasa: menjadi seorang “panglima” di medan perang kemanusiaan.
Panglima dengan Senjata Empati
Bukan seragam militer yang dikenakannya, melainkan rompi khas Palang Merah Indonesia (PMI). Bukan senapan, melainkan empati dan kemampuan menggerakkan solidaritas yang menjadi senjatanya. Sebagai Ketua PMI Kecamatan Makassar, Hj. Dwiana berada di garis depan saat bencana datang, saat yang lain mungkin berlarian menyelamatkan diri.
Ia adalah pemimpin yang memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat, yang mengatur relawan dengan tangan tegas namun hati yang lembut. Baginya, tugas ini bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan jiwa.
“Bagi saya, kemanusiaan adalah bahasa universal. Siapa pun bisa berbicara lewat tindakan nyata,” ujar Hj. Dwiana dengan tegas.
Kalimat ini ringkas, tapi sarat makna. Ia meyakini bahwa kepahlawanan sesungguhnya bukan tentang kekuatan fisik, melainkan kemampuan merasakan penderitaan orang lain dan punya keberanian untuk bertindak meringankannya.
Benteng Kemanusiaan di Tengah Hoaks
Di era digital di mana informasi hoaks dan ujaran kebencian mudah sekali menyebar, tindakan nyata yang dilakukan Hj. Dwiana dan para relawannya menjadi semakin berharga. Mereka adalah benteng ketahanan sosial yang tak ternilai.
Saat orang lain sibuk berdebat di dunia maya, Hj. Dwiana dan timnya ada di lokasi, membagikan makanan, membersihkan puing-puing, atau sekadar menemani anak-anak korban bencana agar mereka bisa tersenyum kembali. Tindakan mereka adalah jawaban atas kebisingan informasi yang seringkali membingungkan.
Relawan Itu Mudah, Dimulai dari Lingkungan Kita
Mendengar kisah seorang Hj. Dwiana mungkin membuat kita berpikir bahwa menjadi relawan adalah hal yang besar dan sulit. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Semangat Hari Relawan Internasional mengajak kita semua untuk memulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Anda tidak perlu menunggu bencana untuk menjadi relawan.
- Tetangga Butuh Bantuan? Angkat tangan untuk membantu membeli kebutuhan atau menjagakan anak.
- Lihat Sampah Menumpah? Ajak tetangga sekitar untuk gotong-royong membersihkannya.
- Ada Teman Sedih? Dengarkan curhatannya, itu juga bentuk relawan kemanusiaan.
Kisah Hj. Dwiana Pamuji Astutik adalah bukti nyata bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar. Mari jadikan momentum 5 Desember ini untuk terinspirasi dan mulai bergerak. Karena di balik setiap bantuan yang tulus, ada jiwa seorang relawan yang siap menjadikan dunia sedikit lebih baik.












