9 Oktober 2025 — Israel dan kelompok Hamas telah menyetujui tahap pertama dari sebuah perjanjian gencatan senjata yang difasilitasi oleh Amerika Serikat serta beberapa mediator Arab seperti Mesir dan Qatar. Kesepakatan ini merupakan bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang berkepanjangan yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Beberapa poin utama dari perjanjian ini antara lain:
- Pertukaran tahanan dan sandera: Hamas setuju untuk melepaskan sandera-sandera Israel yang masih hidup serta jenazah mereka dalam waktu 72 jam setelah Israel menarik pasukannya dari sejumlah wilayah Gaza yang disepakati. Sebagai imbalan, Israel akan membebaskan ratusan tahanan Palestina.
- Penarikan militer parsial oleh Israel dari beberapa area Gaza yang sangat padat.
- Peningkatan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk pengiriman logistik, medis, dan makanan bagi warga sipil yang terdampak perang.
Meskipun kesepakatan ini memperoleh sambutan positif internasional dan harapan besar dari banyak pihak, sejumlah isu penting masih belum terselesaikan, misalnya: siapa yang akan mengelola pemerintahan Gaza pasca-gencatan senjata, bagaimana mekanisme pengawasan atas kesepakatan tersebut, serta tanggung jawab Hamas terkait senjata dan demiliterisasi.
Respon dan Reaksi Internasional
- Warga Gaza menyambut kabar ini dengan rasa lega dan harapan, mengingat banyak dari mereka telah hidup dalam kondisi pengungsian dan kerusakan infrastruktur yang parah.
- Pemerintah di berbagai negara, termasuk negara-negara Arab dan Barat, melihat ini sebagai langkah diplomatik penting. Namun, mereka juga meminta agar komitmen-komitmen dalam kesepakatan ini diikuti dengan tindakan nyata — bukan hanya di atas kertas












