Makassar — Di tengah hiruk pikuk dunia politik dan tantangan sosial yang kian kompleks, sosok Dwiana Pamuji Astutik tampil sebagai representasi perempuan tangguh yang tak hanya berkiprah dalam ranah politik, tetapi juga aktif menebar kepedulian sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Makassar.
Bagi Dwiana, menjadi pemimpin bukan sekadar jabatan, melainkan panggilan hati untuk melayani. Ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan saat bencana terjadi, menggerakkan relawan, dan memastikan bantuan kemanusiaan tersalurkan dengan cepat dan tepat. “Bagi saya, kemanusiaan adalah bahasa universal. Siapa pun bisa berbicara lewat tindakan nyata,” ujarnya dengan tegas.
Namun kiprahnya tak berhenti di situ. Sebagai pengusaha perempuan, Dwiana berhasil membangun usahanya dari nol dengan prinsip kerja keras, integritas, dan komitmen sosial. Ia percaya bahwa dunia usaha harus punya sisi kemanusiaan. Melalui jaringan bisnisnya, Dwiana sering mendukung kegiatan sosial dan pemberdayaan perempuan di tingkat lokal.
Di panggung politik, Dwiana membawa semangat baru: politik yang memanusiakan. Ia berjuang agar perempuan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi ikut menjadi pengambil keputusan yang berpengaruh. “Perempuan punya naluri kepemimpinan yang kuat, karena di setiap langkahnya ada kepekaan dan empati,” tuturnya.
Bagi banyak orang di Makassar, Dwiana bukan sekadar tokoh publik — ia adalah inspirasi nyata bahwa seorang perempuan bisa berperan ganda: memimpin, berbisnis, dan melayani sesama tanpa kehilangan kelembutan hatinya.












