Bappenas Dorong Bioekonomi untuk Tingkatkan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Menuju Indonesia Emas 2045

Ilustrasi penanaman hutan mangrove. (Ilustrasi/Liputan6.com)

Jakarta — Pemerintah terus memperkuat pengembangan bioekonomi sebagai strategi penting untuk mewujudkan transformasi ekonomi menuju Visi Indonesia Emas 2045. Bioekonomi dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, dan menjaga kelestarian lingkungan secara sekaligus.

Upaya ini kembali ditegaskan dalam kegiatan Indonesia Bioeconomy Initiative Workshop yang digelar oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), USAID SEGAR, Kadin Regenerative Forestry Business Hub (Kadin RFBH), serta Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.


Dorong PDB dan Jaga Lingkungan

Deputi Bidang Pangan, SDA, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati darat maupun laut yang sangat besar. Jika dimanfaatkan secara bertanggung jawab, bioekonomi bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Setiap peningkatan permintaan produk hayati 9% bisa meningkatkan PDB sebesar 10%,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).

Agenda ini juga sejalan dengan hilirisasi nasional, di mana bahan baku lokal diproses menjadi produk bernilai tinggi, bukan sekadar dijual mentah.


Rakyat Jadi Pemain Utama

Deputi Kemenko Pangan Nani Hendiarti menambahkan bahwa penerapan bioekonomi dapat memperkuat usaha rakyat melalui perhutanan sosial, yang kini mencakup 1,38 juta keluarga di seluruh Indonesia.

“Kopi, madu, dan tanaman pangan bisa jadi komoditas unggulan. Tapi butuh akses pasar, pendampingan, dan modal agar masyarakat benar-benar sejahtera,” jelasnya.

Direktur KKSDA Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, memastikan bahwa rakyat adalah pusat pengembangan bioekonomi.

Masyarakat berperan sebagai:

  1. Produsen berbasis komunitas

  2. Mitra industri hilirisasi dan inovasi

  3. Penjaga hutan dan ekosistem


Potensi Besar: 62% Wilayah Indonesia Kawasan Hutan

Indonesia adalah negara megabiodiversity dengan 62% wilayah berupa hutan. Karena itu, Multi Usaha Kehutanan menjadi kebijakan strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan tanpa merusak lingkungannya.

Mulai dari:

  • Kopi hutan

  • Gula aren

  • Madu hutan

  • Ekowisata

  • Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK)

Semua berpotensi menciptakan ekonomi baru di pedesaan.


Belum Ada Definisi Resmi Bioekonomi, Pemerintah Susun Kerangka Nasional

Meski potensinya besar, hingga kini Indonesia belum memiliki definisi nasional yang disepakati seluruh sektor. Deputi Bappenas Vivi Yulaswati menilai hal ini jadi tantangan utama.

“Kita butuh konsep dan panduan praktis yang jelas agar semua sektor berjalan satu arah,” tegasnya.

Workshop ini pun menjadi langkah awal penyusunan kerangka bioekonomi Indonesia yang berbasis nilai-nilai lokal, menyeimbangkan alam, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.


Transformasi Ekonomi: Untuk Siapa? Untuk Rakyat

Jika program ini berjalan maksimal, bioekonomi dipercaya akan memberi manfaat langsung bagi masyarakat, terutama desa-desa di sekitar hutan.

📌 Dampak yang ditargetkan:

  • Lapangan kerja baru berbasis alam

  • Peningkatan pendapatan petani dan UMKM

  • Pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil

  • Kelestarian lingkungan tetap terjaga


💬 Diharapkan, Indonesia dapat menjadi pemimpin bioekonomi dunia, bukan hanya karena kekayaan hayatinya, tetapi karena keberhasilan menjadikan rakyat sebagai pemain utama dalam menjaga dan memanfaatkan alam dengan bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *