Diplomasi Panas Iran–AS di Jenewa Buntu, Trump Puji Prabowo di KTT Dewan Perdamaian

Perundingan Iran–AS Buntu, Garis Merah Uranium Tak Bergeser

Putaran kedua perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali berakhir tanpa hasil konkret. Pembicaraan yang dimediasi Oman itu digelar di Jenewa, Swiss, pekan ini, menyusul putaran awal pada 6 Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, hadir bersama delegasi teknis dan menyatakan siap bertahan selama beberapa hari bahkan pekan hingga tercapai kesepakatan.

Di sisi lain, utusan khusus AS Steve Witkoff serta Jared Kushner turut terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Meski Araghchi menyebut suasana diskusi “konstruktif”, sejumlah pengamat menilai inti konflik belum berubah.

Uranium Jadi Titik Keras

Bagi Washington, penghentian pengayaan uranium adalah syarat utama. Namun bagi Teheran, menghentikan sentrifugal berarti melepas kemampuan strategisnya.

Iran menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai dan membuka fasilitasnya untuk pengawasan Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency. Bahkan sebelum perundingan, Araghchi bertemu Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi.

Sebagai sinyal kompromi, Iran dikabarkan bersedia membatasi program nuklirnya dan memindahkan uranium yang diperkaya hingga 60 persen ke negara ketiga. Namun sebagai imbalannya, Teheran menuntut pencabutan sanksi ekonomi — tuntutan yang hingga kini belum dipenuhi Washington.

Pengamat Timur Tengah dari George Washington University, Mohammad Ghaedi, menilai kedua pihak sama-sama bertahan di posisi masing-masing. “AS tidak menerima pengayaan uranium Iran. Itu garis merah mereka. Teheran juga tak akan menghentikan pengayaan,” ujarnya.


Bayang-Bayang Konflik di Selat Hormuz

Ketegangan meningkat di luar ruang diplomasi. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, kembali melontarkan ancaman terhadap AS dan menuding Presiden AS Donald Trump ingin mengganti rezim di Teheran.

Iran juga menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia. Sebagai respons, Washington mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke kawasan tersebut.

Situasi ini membuat harga energi global berpotensi terdampak jika konflik benar-benar pecah. Pengamat memperingatkan, perang mungkin mudah dimulai, tetapi sulit dihentikan.

Untuk saat ini, diplomasi dan ancaman berjalan berdampingan. Optimisme disuarakan, tetapi garis merah tetap dipertahankan.


Trump Puji Prabowo di KTT Dewan Perdamaian

Di tengah panasnya isu global, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pujian kepada Presiden RI Prabowo Subianto saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi perdana Board of Peace atau Dewan Perdamaian di Washington DC, Kamis (19/2/2026).

“Saya sangat suka dengannya. Dia kuat, saya tidak mau melawannya,” kata Trump saat menyapa Prabowo di forum tersebut.

Trump bahkan memuji kepemimpinan Prabowo yang memimpin negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa. Ia juga menyebut Prabowo dihormati banyak pihak dan berterima kasih atas kehadiran Indonesia dalam forum internasional tersebut.

KTT Board of Peace dihadiri sejumlah pemimpin negara dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Dalam forum ini, para pemimpin diberi kesempatan menyampaikan pandangan terkait perdamaian global.

Kehadiran Prabowo dalam forum tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai negara besar yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia.


Penutup

Perundingan Iran–AS di Jenewa menunjukkan betapa rumitnya geopolitik global saat ini. Sementara ancaman konflik membayangi Selat Hormuz, di Washington diplomasi tetap berjalan dalam forum-forum perdamaian.

Dunia kini menanti, apakah diplomasi akan menang, atau ketegangan berubah menjadi konfrontasi terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *