SEOUL – Ketegangan di tubuh kejaksaan Korea Selatan semakin memuncak. Setelah tim jaksa yang menangani langsung sebuah kasus besar mengeluarkan protes, kini giliran para kepala kejaksaan di tingkat cabang ikut angkat bicara. Mereka mengecam keputusan atasan mereka yang tiba-tiba mencabut banding untuk kasus korupsi yang sangat sensitif.
Dalam sebuah pernyataan sikap yang keras, 8 kepala kejaksaan cabang menuntut penjelasan logis atas keputusan yang mereka sebut “sangat tidak wajar” dan “tidak bisa diterima akal sehat”.
Apa Sebenarnya yang Menjadi Pemicu Protes Ini?
Semua berawal dari kasus korupsi besar yang dikenal dengan nama “kasus Daejang-dong”. Ini adalah skandal pengembangan lahan yang telah menjadi sorotan nasional selama bertahun-tahun dan melibatkan nama-nama besar.
Setelah pengadilan tingkat pertama menjatuhkan vonis, tim jaksa penuntut—yang telah bekerja bertahun-tahun untuk kasus ini—secara bulat sepakat untuk mengajukan banding. Mereka merasa vonis tersebut belum mencerminkan keadilan penuh.
Namun, menjelang batas waktu terakhir, sebuah kejutan terjadi. Pimpinan kejaksaan yang bertindak sebagai Plt. Jaksa Agung, Oh Man-seok, tiba-tiba memutuskan untuk tidak mengajukan banding. Keputusan ini secara otomatis mengukuhkan vonis pengadilan tingkat pertama.
“Kami Butuh Penjelasan, Bukan Kebisuan”
Keputusan ini memicu gelombang protes internal. Pertama, tim jaksa asli mengeluarkan pernyataan bahwa mereka “dihalangi” oleh atasan mereka untuk mengajukan banding.
Kini, protes itu semakin meluas. Delapan kepala kejaksaan cabang, termasuk Hadam Mi (Kepala Cabang Kejaksaan Anyang) dan Lim Il-su (Kepala Cabang Kejaksaan Seongnam), ikut menerbitkan surat terbuka yang ditujukan untuk Plt. Jaksa Agung.
Dalam pernyataan mereka, mereka menulis:
“Keputusan untuk tidak mengajukan banding dalam kasus korupsi besar ini sangat tidak biasa. Sampai saat ini, tidak ada penjelasan konkret mengapa keputusan bulat tim penuntut dan kejaksaan pusat tiba-tiba dibalik begitu saja.”
Mereka menambahkan bahwa penjelasan dari pimpinan kejaksaan dan Menteri Hukum selama ini tidak cukup untuk menjawab “mengapa” di balik keputusan penting tersebut.
“Kami menuntut penjelasan yang bisa membuat kami mengerti dan sikap yang sesuai dengan jabatan mereka,” tegas para kepala kejaksaan tersebut.
Mengapa Drama Ini Penting?
Di balik istilah-istilah hukum yang rumit, ada sebuah drama tentang prinsip dan keadilan. Para jaksa ini berjuang untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan adil, tanpa intervensi politik atau tekanan dari atas.
Protes massal ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang dalam di lembaga penegak hukum Korea Selatan. Ini adalah gambaran nyata betapa frustrasinya para penegak hukum di lapangan ketika merasa keadilan yang mereka perjuangkan terganjal oleh keputusan yang tidak masuk akal.
Saat ini, semua mata tertuju pada pimpinan kejaksaan Korea Selatan. Akankah mereka memberikan penjelasan yang memuaskan, ataukah krisis kepercayaan ini akan terus berlanjut dan menggerus kredibilitas lembaga penegak hukum di negeri ginseng tersebut?
Bagaimana menurut Anda? Seharusnya seorang pemimpin memberikan penjelasan atas keputusan kontroversialnya? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar.












