Duka dan Lahirnya Raja Baru: Putra Mahkota Nyatakan Naik Tahta di Hadapan Jenazah PB XIII

Rabu (5/11/2025). (Kompas.com/Fristin Intan)

SOLO – Suasana duka yang mendalam menyelimuti Astana Giribangun, tempat peristirahatan terakhir Prabu Pakubuwana (PB) XIII. Namun, di tengah kesedihan itu, sejarah baru ditorehkan. Di hadapan jenazah ayahandanya tercinta, Putra Mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH), dengan suara bergetar namun tegas, menyatakan kesiapannya naik tahta sebagai Raja Keraton Surakarta yang baru.

Momen yang sangat langka dan penuh kekuatan emosional ini menjadi saksi bisu transisi kekuasaan yang berjalan sesuai adat istiadat yang telah turun-temurun. Prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol nyata bahwa roda pemerintahan di Keraton tidak boleh berhenti, bahkan di saat duka terdalam.

Prosesi Penuh Tangis di Pemakaman Raja

Ratusan abdi dalem dan keluarga keraton mengiringi kepergian PB XIII ke peristirahatan terakhir. Isak tangis pecah saat peti jenazah sang Raja diturunkan. Di tengah kerumunan, sosok Putra Mahkota tampak berusaha tegar, meskipu matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan.

Setelah semua prosesi pemakaman selesai, datanglah momen yang paling dinantikan. Di depan seluruh keluarga besar dan abdi dalem, Putra Mahkota melangkah maju. Ia berdiri tegak di samping jenazah ayahandanya, seolah-olah meminta restu untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.

“Saya Siap Memimpin,” Deklarasi Putra Mahkota

Dengan lantang, Putra Mahkota mengucapkan deklarasi bersejarahnya. “Dengan memohon ridho Allah SWT dan restu dari leluhur, di hadapan jenazah ayahanda saya, Prabu Pakubuwana XIII, saya nyatakan siap untuk naik tahta dan memimpin Keraton Surakarta,” ujarnya, disambut isak tangis dan ucapan “lancar” dari para hadirin.

Pernyataan ini memiliki makna yang sangat dalam. Dalam tradisi Jawa, kematian seorang raja adalah saat yang paling kritis. Keraton tidak boleh dalam keadaan “tanpa penguasa” (tanpa sinuhun) walau hanya sesaat. Prosesi ini adalah cara untuk menegaskan bahwa kekuasaan telah langsung beralih secara sah kepada penerusnya, menjaga stabilitas dan keberlanjutan kerajaan.

Siapakah Raja Baru Keraton Surakarta?

Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) [Nama Lengkap Putra Mahkota], kini akan menyandang gelar baru sebagai Prabu Pakubuwana XIV. Beliau dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan memiliki pemahaman mendalam tentang adat dan budaya Jawa.

Selama ini, ia aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan kerap menjadi wakil ayahandanya dalam berbagai acara resmi. Kenaikan tahtanya diharapkan dapat membawa angin segar dan mempertahankan eksistensi Keraton Surakarta sebagai pusat pelestarian budaya Jawa di era modern.

Simpati Mengalir dari Seluruh Nusantara

Kabar prosesi suksesi ini dengan cepat menyebar dan memunculkan simpati yang luas. Banyak warga netizen, terutama para ibu, mengungkapkan rasa haru dan dukungannya.

“Alhamdulillah, prosesi berjalan lancar. Semoga beliau yang baru diberikan kesehatan dan kekuatan untuk memimpin,” tulis seorang warganet di media sosial.

“Haru sekali melihatnya. Ini adalah contoh nyata tanggung jawab seorang anak yang luar biasa. Selamat untuk Raja baru,” komentar yang lain.

Kenaikan tahta Prabu Pakubuwana XIV menandai babak baru dalam sejarah panjang Keraton Surakarta. Semoga di bawah kepemimpinannya, semua warisan leluhur dapat terus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *