IMF Dorong Negara Asia Pangkas Hambatan Perdagangan untuk Hadapi Dampak Tarif AS

Jakarta, 24 Oktober 2025 — Dana Moneter Internasional (IMF) menyerukan negara-negara di kawasan Asia untuk segera memangkas hambatan perdagangan dan birokrasi ekspor-impor guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya tensi dagang global, terutama akibat kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat.

Dalam laporan ekonominya yang dirilis Jumat (24/10), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2025 akan berada di kisaran 4,5%, sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 4,9%. Penurunan ini dikaitkan dengan efek domino dari kenaikan tarif impor AS terhadap produk manufaktur dan elektronik Asia, serta melemahnya permintaan global.

“Asia harus memperkuat integrasi regional dan menurunkan hambatan non-tarif agar tetap kompetitif dalam perdagangan global,” kata Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, dalam konferensi pers di Singapura.


Kebijakan Tarif AS Picu Reaksi Global

Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Kamala Harris baru-baru ini memberlakukan kenaikan tarif hingga 20% terhadap produk logam, semikonduktor, dan otomotif asal Asia untuk melindungi industri dalam negeri.
Kebijakan ini memicu ketegangan ekonomi dengan negara seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, dan Vietnam, yang menjadi mitra utama rantai pasok global.

Sebagai respons, IMF mendorong negara-negara Asia untuk memperkuat kerja sama intra-Asia, terutama melalui perjanjian perdagangan seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), guna mengurangi ketergantungan pada pasar AS.


Diversifikasi Pasar dan Transformasi Digital

Selain liberalisasi perdagangan, IMF juga menekankan pentingnya transformasi digital dan inovasi rantai pasok sebagai langkah strategis menjaga ketahanan ekonomi kawasan.
Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand disebut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi teknologi dan energi hijau yang mampu menarik investasi asing.

“Kunci masa depan Asia bukan hanya ekspor murah, tapi kemampuan untuk berinovasi, membangun ekosistem industri berkelanjutan, dan memperluas pasar non-tradisional,” ujar Srinivasan.


Dampak ke Indonesia

Menurut ekonom senior Indef (Institute for Development of Economics and Finance), Arif Budimanta, tekanan global ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat reformasi perdagangan dan mendorong hilirisasi industri.

“Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk membuka akses pasar baru, seperti Afrika dan Amerika Latin, serta memperkuat industri domestik agar tidak bergantung pada bahan mentah,” ujarnya.

IMF memprediksi bahwa jika negara-negara Asia berhasil menurunkan hambatan perdagangan dan meningkatkan kerja sama regional, pertumbuhan kawasan bisa naik kembali ke level 5% pada 2026.


Kesimpulan

Meski tantangan global semakin kompleks, kawasan Asia tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, menyumbang hampir 60% dari total output global. Namun tanpa langkah konkret memperkuat integrasi dan efisiensi perdagangan, potensi besar itu bisa melambat akibat proteksionisme global.

Ilustrasi : Behzad AI Visual Division
Editor: Tim Redaksi Behzad.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *