Jakarta, 22 Oktober 2025 — Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan rencana pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) di wilayah pesisir utara Pulau Jawa atau Pantura. Proyek strategis nasional ini akan menjadi salah satu infrastruktur pertahanan iklim terbesar di Asia Tenggara, dengan tujuan melindungi lebih dari 50 juta penduduk dari ancaman kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim global.
Proyek Mega-Infrastruktur Bernilai Rp1.200 Triliun
Berdasarkan pernyataan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), tanggul sepanjang 535 kilometer ini akan dibangun secara bertahap mulai tahun 2026 hingga 2035. Estimasi nilai investasi proyek mencapai US$ 80 miliar atau setara dengan Rp1.200 triliun.
Pembangunan tanggul laut ini akan mengadopsi model kerja sama pemerintah dan swasta (Public Private Partnership/PPP) guna mempercepat pembiayaan dan memastikan keberlanjutan proyek jangka panjang. Sejumlah negara sahabat, seperti Belanda, Jepang, dan Korea Selatan, telah menyatakan minat untuk turut berpartisipasi dalam penyusunan desain dan teknologi pelindung pantai.
Ancaman Nyata: Naiknya Air Laut dan Tenggelamnya Wilayah Pesisir
Menurut laporan terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebagian besar pesisir utara Jawa mengalami penurunan muka tanah hingga 10 cm per tahun. Fenomena ini diperparah oleh kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global.
Kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan menjadi kawasan paling rentan tenggelam jika tidak dilakukan langkah pencegahan. Bahkan, riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN) memperkirakan sebagian wilayah utara Jawa bisa hilang dari peta dalam 25 tahun ke depan jika tidak ada intervensi besar.
Fase Pembangunan dan Teknologi yang Akan Digunakan
Proyek tanggul laut raksasa Pantura akan dilaksanakan dalam tiga tahap utama:
- Fase I (2026–2028): Pembangunan infrastruktur utama di kawasan DKI Jakarta dan Bekasi.
- Fase II (2029–2031): Perluasan tanggul ke arah Cirebon, Pekalongan, dan Semarang.
- Fase III (2032–2035): Penyelesaian konstruksi hingga wilayah Surabaya dan integrasi dengan sistem kanal banjir.
Teknologi yang diterapkan akan mencakup sistem pompa otomatis, pintu air pintar berbasis AI, serta modul beton ramah lingkungan untuk menahan abrasi. Selain fungsi pertahanan, tanggul ini juga akan menjadi zona ekonomi baru yang dilengkapi pelabuhan, jalur logistik, dan area wisata bahari.
Dukungan dan Tantangan
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi investasi jangka panjang untuk keselamatan manusia dan ekonomi nasional.
“Tanggul laut ini adalah perisai bangsa kita. Kita tidak boleh kalah dari perubahan iklim,” ujarnya dalam rapat kabinet di Istana Negara.
Namun, sejumlah pakar lingkungan mengingatkan agar proyek ini tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem laut dan dampak sosial bagi masyarakat pesisir. Pemerintah memastikan akan melibatkan akademisi dan komunitas lokal dalam setiap tahap perencanaan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan selesainya proyek tanggul laut raksasa Pantura, Indonesia diharapkan mampu:
- Mengurangi potensi kerugian ekonomi akibat banjir hingga Rp100 triliun per tahun.
- Melindungi infrastruktur vital seperti pelabuhan, pabrik, dan jalur transportasi nasional.
- Mendorong terciptanya lebih dari 1 juta lapangan kerja baru di sektor konstruksi dan teknologi hijau.
Kesimpulan
Pembangunan tanggul raksasa di Pantura menjadi langkah monumental bagi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global. Langkah ini bukan hanya tentang membangun tembok pelindung laut, tetapi juga simbol ketahanan bangsa dalam menjaga masa depan 50 juta warganya.
Ilustrasi : Behzad AI Visual Division
Editor: Tim Redaksi Behzad.id












