Behzad.id – Internasional
Republik Islam Iran tengah berada di titik krisis paling genting dalam beberapa dekade terakhir. Gelombang protes besar yang melanda berbagai kota kini berubah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pemerintahan Teheran.
Aksi massa yang awalnya dipicu kesulitan ekonomi berkembang cepat menjadi gerakan perlawanan terbuka. Situasi semakin panas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, termasuk opsi intervensi militer.
Trump menyatakan Washington siap bertindak jika aparat keamanan Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran. Pernyataan itu muncul di tengah laporan meningkatnya jumlah korban jiwa dalam bentrokan antara warga dan aparat keamanan.
“Kami mungkin harus bertindak sebelum perundingan apa pun terjadi,” ujar Trump kepada wartawan, mengisyaratkan bahwa AS tengah mempertimbangkan langkah tegas terhadap Teheran.
Namun, serangan militer dinilai tidak otomatis menjatuhkan rezim Iran. Gerakan protes saat ini dinilai masih tanpa pemimpin yang jelas dan belum memiliki kekuatan politik terorganisir untuk mengambil alih kekuasaan.
Di sisi lain, tekanan ekonomi justru menjadi senjata utama Amerika Serikat. Trump mengumumkan penerapan tarif impor sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Kebijakan ini dinilai jauh lebih berbahaya bagi stabilitas Iran dibandingkan serangan militer.
Nilai mata uang rial telah anjlok drastis sepanjang tahun lalu. Depresiasi tajam ini menjadi pemicu utama kemarahan publik. Jika mitra dagang utama seperti China, India, Turki, dan Uni Emirat Arab mengurangi transaksi, ekonomi Iran diperkirakan semakin terpuruk.
Pemerintah Iran khawatir situasi ini menyerupai skenario Arab Spring, di mana protes damai berubah menjadi konflik bersenjata dan berujung kehancuran negara, seperti yang terjadi di Libya dan Suriah.
Untuk meredam tekanan, penguasa Iran berupaya menghancurkan aksi protes secepat mungkin sembari mengerahkan pendukungnya ke jalanan guna menunjukkan rezim masih kuat. Namun, masa depan tetap tampak suram.
Ancaman konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terus membayangi. Sanksi ekonomi diprediksi makin menjerat, sementara gelombang protes baru berpotensi muncul kapan saja.
Pengamat menilai Iran kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: melawan dengan risiko perang besar, atau mengubah arah politik demi menghindari kehancuran total.












