behzad.id – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengakui bahwa upaya perubahan rezim di Iran jauh lebih kompleks dibandingkan langkah terbaru Washington terhadap Venezuela. Hal itu disampaikan Rubio dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rabu (28/1/2026).
“Saya membayangkan itu akan jauh lebih kompleks daripada yang kita gambarkan sekarang, karena Anda berbicara tentang rezim yang telah berkuasa sangat lama,” kata Rubio di hadapan para anggota parlemen.
Menurut Rubio, setiap kemungkinan perubahan rezim di Iran membutuhkan perhitungan yang sangat matang. Ia menilai situasi Iran berbeda karena struktur kekuasaan dan militernya sudah mengakar selama puluhan tahun.
AS Pertahankan Kekuatan Militer di Timur Tengah
Rubio menjelaskan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah saat ini bersifat defensif. Sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara AS ditempatkan di delapan hingga sembilan pangkalan militer di kawasan tersebut.
Ia mengingatkan bahwa pasukan AS berada dalam jangkauan ribuan drone dan rudal balistik jarak pendek milik Iran. Karena itu, Washington menilai penting untuk memiliki kemampuan mencegah serangan secara preemptif.
“Kita harus memiliki kekuatan dan daya yang cukup di kawasan ini, setidaknya sebagai dasar untuk bertahan dari kemungkinan itu,” ujar Rubio.
Ia juga menyinggung adanya perjanjian keamanan dengan Israel dan sekutu lain yang menuntut AS mempertahankan postur militer kuat di kawasan Timur Tengah.
Iran Disebut Melemah, Ekonomi Runtuh
Meski demikian, Rubio menilai rezim Iran saat ini “lebih lemah dari sebelumnya”. Ia menuding pemerintah Teheran gagal menjawab tuntutan utama para demonstran, terutama soal ekonomi.
“Perekonomian Iran sedang runtuh,” kata Rubio. Ia memperkirakan gelombang protes akan terus berulang jika pemerintah Iran tidak bersedia berubah atau mundur.
Iran sendiri telah diguncang aksi demonstrasi besar sejak akhir Desember lalu, dipicu anjloknya nilai rial dan memburuknya kondisi ekonomi. Aksi protes bermula di Grand Bazaar Teheran sebelum menyebar ke berbagai kota.
Ancaman Trump dan Respons Iran
Pernyataan Rubio muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Trump menyebut “armada besar” tengah menuju kawasan dan berharap Teheran mau membuka pintu negosiasi dengan Washington.
Namun, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel mendukung kelompok “perusuh bersenjata” untuk menciptakan dalih intervensi asing. Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan respons “cepat dan komprehensif”.
Menurut kelompok HAM Human Rights Activists News Agency (HRANA), lebih dari 6.200 orang tewas dalam gelombang protes terbaru. Angka ini diyakini bisa lebih tinggi karena pemadaman internet yang menyulitkan verifikasi data.
Jerman: Hari-hari Rezim Iran Tinggal Menghitung Waktu
Dari Eropa, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa nasib rezim Iran tinggal menghitung hari. Ia menilai pemerintah Iran hanya bertahan melalui kekerasan dan teror terhadap rakyatnya sendiri.
“Rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara,” kata Merz dalam konferensi pers, Rabu (28/1).
Merz juga mendukung upaya penetapan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa.
Sementara itu, Trump kembali memperingatkan Iran agar segera datang ke meja perundingan dan menghentikan program nuklir serta rudal balistiknya. Ia menegaskan serangan berikutnya akan jauh lebih buruk jika Iran tetap menolak bernegosiasi.












