Profil Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI 2025-2030 yang Membawa Misi dari Pesantren Hingga Tenda Besar Umat

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar

Jakarta, 22 November 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi memiliki nahkoda baru untuk periode 2025-2030. Anwar Iskandar, seorang ulama senior yang kariernya tak lepas dari dunia pendidikan Islam, secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI yang digelar di Jakarta, Sabtu (22/11/2025).

Penunjukan Anwar Iskandar bukanlah sebuah kejutan. Latar belakangnya yang kaya akan pengalaman di pesantren, organisasi keagamaan, dan pendidikan akademis menjadikannya sosok yang dianggap mampu memayungi seluruh elemen umat.

Amanah Berat di Hadapan Allah

Dalam pidato perdananya, Anwar Iskandar langsung menegaskan besarnya amanah yang kini dipikulnya di pundaknya. Ia tidak menyebutnya sebagai kekuasaan, melainkan sebuah pertanggungjawaban yang akan ditanyakan di akhirat.

“Ini akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT,” ujar Anwar dengan suara tegas namun penuh keikhlasan, sebagaimana dilansir dari sumber internal MUI.

Ia menggambarkan MUI sebagai sebuah “tenda besar” yang harus menaungi seluruh komponen umat Islam, dari berbagai latar belakang dan mazhab. Menurutnya, tujuan berkumpulnya para ulama di MUI adalah untuk bermusyawarah demi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat.

“Kita berkumpul dan bermusyawarah untuk memberi manfaat bagi umat,” tegasnya, menegaskan visi inklusifnya untuk organisasi yang dipimpinnya.

Jejak Karier Sang Ulama dari Banyuwangi

Perjalanan Anwar Iskandar menuju puncak kepemimpinan MUI adalah sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari pesantren. Lahir di Desa Berasan, Muncar, Banyuwangi pada 24 April 1950, ia adalah putra dari Iskandar, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Mambaul Ulum. Sejak dini, ia sudah dibentuk dalam lingkungan pendidikan Islam yang kental.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di pesantren ayahnya, sebelum melangkah lebih jauh untuk mendalami ilmu agama di Pesantren Lirboyo, Kediri, salah satu pesantren besar di Tanah Air. Tidak cukup hanya dengan ilmu agama tradisional, ia meraih gelar sarjana muda dari Perguruan Tinggi Tribakti Kediri dan melanjutkan studi sarjananya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil jurusan Sastra Arab.

Kiprahnya sebagai pendidik tidak hanya berhenti di mengajar. Ia aktif mengembangkan pendidikan melalui dua yayasan yang didirikannya, yakni Assa’idiyah Jamsaren dan Al-Amin Ngasinan, yang menjadi wadahnya dalam membina generasi muda.

Pengalaman Organisasi Membentuk Pemimpin

Sebelum memimpin MUI, kapasitas kepemimpinan Anwar telah terasah melalui berbagai jabatan organisasi. Karir organisasinya dimulai saat memimpin GP Ansor Kediri selama dua periode sejak 1975. Pengalamannya semakin kaya saat dipercaya menjadi Rais Syuriyah NU Kediri dan kemudian naik pangkat menjadi Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.

Kini, dengan segala pengalaman dan jejak karirnya, mata umat Islam tertuju padanya. Tantangan terbesar Anwar Iskandar adalah mewujudkan visi MUI sebagai “tenda besar” yang inklusif dan menjadi rujukan utama bagi umat, menjawab berbagai isu keagamaan dan kemasyarakatan yang terus berkembang di era modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *