(Hong Kong) – Dunia kripto kembali terguncang. Setelah berbulan-bulan penyelidikan, pihak berwenang di Hong Kong akhirnya secara resmi menuntut influencer terkenal, Lam Chok (林作), dan 15 orang lainnya terkait skandal penipuan massive yang dilakukan oleh bursa kripto JPEX. Sidang perdana mereka digelar hari ini di Pengadilan Magistrat West Kowloon.
Kasus ini telah menelan ribuan korban dengan total kerugian yang diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 miliar Dolar Hong Kong (sekitar Rp 3 triliun), menjadikannya salah satu skandal keuangan terbesar di kota tersebut.
Apa Itu Skandal JPEX?
JPEX (JP-EX Crypto Asset Platform) dipromosikan sebagai bursa kripto yang andal dan menjanjikan imbal hasil yang sangat menggiurkan bagi investor. Namun, di balik janji manisnya, platform ini tidak memiliki lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan Hong Kong (SFC).
Pada September 2023, platform ini tiba-tiba membekukan penarikan dana para penggunanya, memicu kepanikan massal. Ribuan investor, dari kalangan profesional hingga ibu rumah tangga, menemukan bahwa investasi mereka telah lenyap tak bisa diakses.
Siapakah Lam Chok dan Mengapa Dia Jadi Tersangka Utama?
Lam Chok adalah figur sentral dalam penyebaran JPEX di kalangan masyarakat. Sebagai seorang influencer, mantan pesonelitas polisi, dan pengacara, ia memiliki kredibilitas dan basis pengikut yang besar.
Ia secara aktif mempromosikan JPEX melalui berbagai saluran, termasuk YouTube dan media sosial, dengan menampilkan gaya hidup mewah yang diduga didanai dari keuntungan investasi di platform tersebut.
Salah satu momen paling viral adalah saat ia membuat video “Gencet Tombol Panik” (Panic Button), di mana ia dengan sok tahu memberi tahu pengikutnya cara menarik dana dari JPEX saat gejolak pasar. Video ini kini justru menjadi bukti bahwa ia mengetahui adanya masalah dalam platform, namun tetap membujuk orang untuk berinvestasi.
Daftar 16 Tersangka dan Tuduhan Jaksa
Selain Lam Chok (29), 15 tersangka lainnya yang dituntut mencakup berbagai peran dalam operasi JPEX, mulai dari karyawan hingga agen penjualan senior. Mereka adalah:
- Chan Yee-ting (25)
- Cheng Chi-fung (24)
- Cheung Kai-hei (25)
- Wong Ka-po (26)
- Leung Ka-kit (27)
- …dan 10 tersangka lainnya dengan rentang usia 23 hingga 53 tahun.
Jaksa penuntut umum mendakwa mereka dengan dua tuduhan utama:
- “Penipuan” (Fraud): Dengan sengaja menipu korban dengan menyembunyikan fakta bahwa JPEX tidak berlisensi dan memiliki risiko tinggi.
- “Mencuci Uang” (Money Lauvering): Mencuci hasil dari kejahatan penipuan tersebut.
Pada sidang perdana hari ini, tidak ada dari para tersangka yang mengajukan pembelaan. Kasusnya ditunda hingga Januari mendatang untuk persidangan berikutnya.
Dampak bagi Korban dan Pelajaran Berharga
Bagi ribuan korban, penuntutan ini adalah setidaknya sebuah langkah maju dalam perjuangan mereka mendapatkan keadilan. Banyak dari mereka yang menggunakan tabungan seumur hidup, bahkan berhutang, untuk berinvestasi di JPEX setelah tergiur promosi dari para influencer seperti Lam Chok.
Kasus ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi masyarakat luas, terutama di era digital:
- Waspadalah terhadap Influencer: Kredibilitas seorang influencer tidak sama dengan keahlian finansial. Lakukan riset mendalam sebelum mengikuti saran investasi mereka.
- Cek Lisensi Resmi: Pastikan setiap platform investasi, terutama aset digital seperti kripto, memiliki lisensi dari otoritas yang berwenang di negara Anda.
- Iming-iming Imbal Hasil Tinggi adalah Peringatan: Investasi selalu berisiko. Janji “keuntungan pasti” dengan imbal hasil tidak wajar seringkali adalah ciri-ciri skema penipuan.
Proses hukum untuk para tersangka JPEX masih akan panjang. Namun, sidang hari ini menandai babak baru di mana para aktor di balik skandal yang merugikan banyak orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum.
#hongkong #JPEX
Apa pendapat Anda mengenai peran influencer dalam kasus investasi bodong seperti ini? Apakah mereka harus bertanggung jawab penuh? Sampaikan opini Anda di kolom komentar!












