behzad.id | Jakarta – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa hanya fokus pada persoalan dalam negeri di tengah situasi global yang makin tidak pasti.
Dalam kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Senin (23/2/2026), SBY menegaskan dinamika geopolitik dan ekonomi dunia pasti berdampak langsung pada kondisi nasional.
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 7–8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah hal yang keliru. Bahkan, pertumbuhan 8 persen diyakini bisa mempercepat penurunan kemiskinan, meningkatkan pendapatan per kapita, serta membuka lebih banyak lapangan kerja.
“Dream 7-8 persen tidak salah. Dengan 8 persen, harapannya penurunan kemiskinan lebih tajam, pengangguran berkurang, dan lapangan kerja bertambah. Itu hukum ekonomi,” ujar SBY.
Namun, ia mengingatkan bahwa target tersebut harus fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi global yang terus berubah.
Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, mengungkapkan meningkatnya eskalasi konflik global yang berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga.
Menurut Ace, SBY menilai sinyal konflik di berbagai kawasan dunia semakin nyata. Beberapa titik panas yang disoroti antara lain konflik di Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, hingga ketegangan China–Taiwan di Asia.
Di Eropa, perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung. Sementara di Timur Tengah, konflik melibatkan Israel, Palestina, Iran, dan Amerika Serikat juga terus memanas.
“Berbagai konflik di tiga kawasan tersebut berpotensi melahirkan kemungkinan perang dunia ketiga,” kata Ace.
Karena itu, pemerintah didorong untuk aktif dalam diplomasi internasional, terutama dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia.
Indonesia Harus Siap Perang Modern
SBY juga menyoroti perubahan lanskap peperangan global. Ia menilai dunia telah memasuki era perang modern yang tak lagi hanya mengandalkan kekuatan darat.
Menurutnya, perang siber (cyber war), kecerdasan buatan (AI), dan robotik kini menjadi bagian penting dalam strategi pertahanan. Indonesia, kata SBY, harus memperkuat kekuatan udara (air power) sebagai bagian utama pertahanan nasional.
“Dulu seolah-olah angkatan darat yang utama. Sekarang air power sangat penting,” tegasnya.
SBY bahkan mencontohkan skenario serangan udara ke kota-kota strategis seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Ia mengingatkan bahwa serangan modern bisa langsung menyasar pusat pemerintahan dan objek vital tanpa harus melalui pertempuran darat konvensional.
Doktrin lama pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankamrata), menurutnya, tetap penting, tetapi harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi militer.
“Kita harus bangun resource, skill, dan kebijakan yang adaptif. Modern warfare, modern teknologi, modern doctrine, semuanya harus siap,” pungkasnya.
Kemandirian Jadi Kunci
Di tengah ancaman global, Ace Hasan Syadzily juga mengajak masyarakat memperkuat kemandirian nasional, mulai dari ekonomi, pangan, energi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Kewaspadaan dan daya tangkal bangsa, menurutnya, menjadi faktor penting agar Indonesia mampu bertahan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian.
Dengan tantangan ekonomi dan geopolitik yang makin kompleks, pesan SBY jelas: Indonesia harus realistis dalam menargetkan pertumbuhan, tetapi tetap waspada terhadap ancaman global yang bisa datang kapan saja.












