BEHZAD.ID – Gelombang protes besar-besaran kembali mengguncang Amerika Serikat. Jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” untuk menentang kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari berbagai sumber internasional pada Minggu (29/3/2026) waktu setempat, penyelenggara mengklaim setidaknya 8 juta orang ikut ambil bagian dalam lebih dari 3.300 aksi demonstrasi yang tersebar di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat.
Aksi ini menjadi gelombang protes terbesar ketiga dalam waktu kurang dari setahun sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Demo ‘No Kings’ Meluas dari New York hingga Los Angeles
Demonstrasi berlangsung dari kota-kota besar hingga kota kecil, mulai dari New York, Atlanta, Washington, Los Angeles, Denver, hingga San Diego.
Di New York, puluhan ribu orang memadati jalanan. Aksi ini bahkan dihadiri aktor peraih Oscar Robert De Niro, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik keras Trump.
Sementara itu di Washington DC, ribuan massa berkumpul di kawasan National Mall sambil membawa spanduk bertuliskan:
- “Trump Harus Mundur Sekarang!”
- “Lawan Fasisme”
Banyak peserta aksi menilai kebijakan Trump telah mengancam demokrasi dan konstitusi Amerika Serikat.
“Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik,” kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, saat ikut aksi di Atlanta.
Pendukung Trump Bentrok dengan Demonstran di Florida
Ketegangan juga terjadi di West Palm Beach, Florida, ketika sekitar 50 pendukung Trump tiba-tiba muncul di lokasi aksi dan terlibat adu mulut dengan massa demonstran “No Kings”.
Sejumlah pendukung Trump datang membawa megafon, mikrofon, topi, kaos, dan bendera bertuliskan “Proud Boys” untuk menyuarakan dukungan terhadap presiden.
Polisi setempat langsung turun tangan untuk memisahkan kedua kubu dan mencegah bentrokan meluas.
Aksi “No Kings” sendiri memprotes berbagai isu, mulai dari:
- perang dan ketegangan dengan Iran,
- kenaikan harga makanan,
- naiknya harga bensin,
- kebijakan imigrasi garis keras,
- hingga tudingan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Los Angeles Memanas, Polisi Lepaskan Gas Air Mata
Situasi paling tegang terjadi di Los Angeles (LA). Setelah unjuk rasa damai berakhir, kericuhan pecah di luar Pusat Penahanan Federal di pusat kota.
Departemen Kepolisian Los Angeles menetapkan Siaga Taktis, memblokir sejumlah ruas jalan, lalu mengeluarkan perintah pembubaran.
Polisi juga dilaporkan menggunakan gas air mata dan menangkap sejumlah orang yang menolak membubarkan diri.
Lokasi tersebut memang dikenal sebagai titik panas sejak dimulainya penindakan imigrasi oleh pemerintahan Trump tahun lalu.
Untuk mengantisipasi massa, otoritas bahkan telah memasang gerbang keamanan di sejumlah akses menuju Jalan Tol 101 sejak sehari sebelum aksi.
Denver Nyatakan Demonstrasi sebagai Pertemuan Ilegal
Kericuhan juga dilaporkan terjadi di Denver. Kepolisian setempat menyatakan aksi sebagai pertemuan ilegal setelah sekelompok kecil demonstran memblokir jalan dan tidak membubarkan diri sesuai perintah petugas.
Polisi melepaskan tabung asap, namun situasi memanas ketika beberapa demonstran melemparkan tabung itu kembali ke arah petugas.
Sedikitnya sembilan orang ditangkap, termasuk karena diduga melempar benda ke polisi.
Gerakan Anti-Trump Kini Menyebar ke Eropa
Suasana anti-Trump tak hanya terasa di Amerika Serikat. Aksi solidaritas juga meluas ke sejumlah kota di Eropa, termasuk:
- Amsterdam
- Madrid
- Roma
Di Roma, sekitar 20 ribu orang dilaporkan ikut berbaris di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Penyelenggara menyebut gerakan “No Kings” kini berupaya menjadi gerakan internasional dengan gaung aksi yang merambah Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.
Narasi utama yang diusung adalah penolakan terhadap:
- kediktatoran,
- tirani,
- dan kecenderungan otoritarianisme.
Prof Suzie: Aksi Ini Cermin Polarisasi Politik Amerika
Pengamat politik Prof. Suzie menilai demonstrasi “No Kings” menunjukkan bahwa banyak warga Amerika melihat gaya pemerintahan Trump sudah menyerupai karakter kepemimpinan seorang “raja”.
“Para pemrotes berargumen bahwa aksi pemerintahan Trump itu menunjukkan ciri-ciri perilaku Raja dalam soal tata kelola pemerintahan,” ujarnya.
Menurutnya, isu utama yang diangkat dalam aksi meliputi:
- penolakan terhadap kebijakan imigrasi keras,
- protes atas perang dengan Iran,
- kritik terhadap praktik yang dianggap otoriter,
- dan tudingan korupsi dalam pemerintahan.
Prof. Suzie juga menyebut gerakan ini menjadi bukti tingginya polarisasi politik di Amerika Serikat menjelang pemilu sela 2026.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa aksi sebesar ini belum tentu langsung mengubah arah kebijakan Trump dalam jangka pendek.
Gedung Putih Balas Keras, Trump Ejek Demonstran
Gedung Putih merespons demonstrasi ini dengan nada tajam.
Trump disebut menyindir aksi “No Kings” sebagai “Trump Derangement Therapy Sessions”, dan menuding para demonstran didukung jejaring kelompok kiri.
Pernyataan itu dinilai sebagai upaya untuk mendelegitimasi warga yang turun ke jalan dan menganggap mereka bukan sebagai masyarakat yang benar-benar prihatin terhadap kondisi negara.
Aksi ‘No Kings’ Jadi Protes Terbesar dalam Sejarah Modern AS?
Penyelenggara menyebut aksi Sabtu lalu sebagai “protes tanpa kekerasan satu hari terbesar dalam sejarah Amerika modern.”
Mereka mengklaim:
- 8 juta peserta
- 3.300 lebih aksi
- tersebar di seluruh 50 negara bagian
- dan hampir di setiap benua
Sebelumnya, aksi “No Kings” pertama pada Juni 2025 bertepatan dengan ulang tahun Trump ke-79 dan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan orang turun ke jalan.
Aksi kedua pada Oktober 2025 disebut menarik sekitar 7 juta demonstran.
Kini, skala protes kembali membesar, menandakan bahwa gelombang perlawanan sipil terhadap Trump belum mereda.
Kesimpulan: ‘No Kings’ Jadi Alarm Keras untuk Trump
Demonstrasi “No Kings” kini bukan lagi sekadar aksi jalanan, tetapi telah menjadi simbol perlawanan sipil terhadap kepemimpinan Donald Trump.
Dengan jutaan orang turun ke jalan, bentrokan di beberapa kota, dan aksi yang merambah luar negeri, protes ini menjadi sinyal kuat bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi tekanan politik dan sosial yang sangat serius.
Meski belum tentu langsung menggoyang kursi Trump, aksi ini dipandang sebagai indikator penting atas membesarnya ketidakpuasan publik menjelang pertarungan politik berikutnya.













