BEHZAD.ID – Tujuh bulan menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) 2026, Presiden AS Donald Trump menghadapi gelombang penolakan yang semakin besar dari warga negaranya. Sejumlah survei terbaru menunjukkan publik Amerika makin pesimis terhadap kebijakan Trump, terutama di bidang ekonomi dan keterlibatan militer AS dalam konflik luar negeri.
Kondisi ini menjadi sinyal bahaya serius bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu (midterm) 3 November 2026, yang akan menentukan peta kekuatan politik di Kongres AS. Data resmi Komisi Pemilihan Federal AS juga mencatat pemilu umum federal 2026 berlangsung pada 3 November 2026.
Janji tekan inflasi, Trump justru diterpa krisis kepercayaan
Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump sebelumnya menjanjikan akan menekan inflasi dan menghindari keterlibatan militer AS dalam perang luar negeri. Namun, perkembangan di awal 2026 justru memperlihatkan arah sebaliknya.
Di tengah tekanan biaya hidup yang masih tinggi, Trump terseret ke dalam konflik militer yang memicu gejolak baru. Reuters melaporkan, perang terkait Iran telah berlangsung hampir empat pekan dan menjadi beban politik yang besar bagi Trump, terutama karena dampaknya langsung terasa pada harga energi dan biaya hidup warga Amerika.
Selain itu, Reuters juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump sebelumnya melakukan operasi besar di Venezuela pada Januari 2026, yang berujung pada penangkapan mantan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan AS. Langkah ini menambah kesan bahwa Trump semakin agresif di panggung luar negeri, berlawanan dengan janjinya saat kampanye.
Dukungan kebijakan ekonomi Trump jatuh ke titik terendah
Salah satu pukulan terberat datang dari survei terbaru yang menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kebijakan ekonomi Trump anjlok tajam.
Menurut data Reuters/Ipsos yang dipublikasikan 20 Maret 2026, persetujuan Trump terkait biaya hidup hanya tersisa 29 persen, turun dari sekitar 35 persen sebelumnya. Ini menjadi salah satu angka terburuk yang pernah dicatat untuk isu yang selama ini menjadi tulang punggung kampanye politiknya.
Dalam survei yang sama, warga Amerika juga menunjukkan kekhawatiran besar terhadap lonjakan harga bahan bakar. Sebanyak 55 persen responden mengaku kenaikan harga bensin sudah menghantam kondisi keuangan rumah tangga mereka, sementara 87 persen memperkirakan harga bahan bakar masih akan terus naik.
Perang Iran bikin harga energi naik, rakyat marah
Konflik Iran menjadi salah satu faktor paling merusak citra Trump saat ini. Serangan balasan Iran dan gangguan di kawasan strategis energi dunia membuat pasar global bergejolak.
Reuters mencatat bahwa ketegangan ini sempat mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Meski harga minyak kemudian turun lebih dari 13 persen setelah Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran, gejolak tersebut sudah lebih dulu memicu kekhawatiran besar di pasar dan di tingkat rumah tangga Amerika.
Bagi warga AS, dampaknya sederhana tapi menyakitkan: harga bensin naik, biaya hidup makin berat, dan janji Trump dianggap gagal ditepati.
Trump dinilai terlalu fokus ke luar negeri, bukan urusan rakyat
Selain ekonomi, persepsi publik terhadap gaya kepemimpinan Trump juga memburuk. Banyak warga AS mulai menilai Trump terlalu sibuk mengurus konflik luar negeri ketimbang fokus pada persoalan domestik seperti inflasi, harga kebutuhan pokok, dan daya beli masyarakat.
Situasi ini memperburuk posisi Trump karena isu ekonomi sejak awal memang menjadi ujian utama pemerintahannya. Jika sebelumnya lawan politiknya diserang karena dianggap lamban menghadapi inflasi, kini Trump justru dinilai mengambil langkah yang ikut memperparah tekanan harga.
Tokoh MAGA mulai kritik Trump, Partai Republik terancam
Masalah Trump tak berhenti di publik umum. Sejumlah tokoh penting dalam gerakan MAGA (Make America Great Again) yang selama ini menjadi basis loyalisnya juga mulai melontarkan kritik terbuka terhadap arah kebijakan perang.
Reuters melaporkan, forum konservatif besar di AS mulai dipenuhi kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dan kenaikan harga bensin bisa menggerus peluang Partai Republik mempertahankan mayoritas tipis mereka di Kongres. Bahkan, tingkat persetujuan Trump secara umum disebut turun ke titik rendah baru, sekitar 36 persen, di tengah kemarahan publik terhadap perang dan kenaikan harga energi.
Kondisi ini membuat pemilu paruh waktu 2026 berpotensi menjadi ujian politik paling berat bagi Trump sejak kembali ke Gedung Putih.
Pemilu paruh waktu 2026 bisa jadi hukuman politik untuk Trump
Jika tren penurunan dukungan ini terus berlanjut, maka pemilu paruh waktu pada November 2026 bisa berubah menjadi “hukuman politik” bagi Trump dan Partai Republik.
Di AS, pemilu paruh waktu sangat penting karena menentukan komposisi DPR AS dan sebagian kursi Senat AS. Jika Partai Republik kehilangan banyak kursi, maka agenda Trump di sisa masa jabatan bisa terhambat, bahkan berisiko lumpuh secara politik.
Dengan kata lain, rakyat Amerika kini tidak hanya menilai Trump dari pidatonya, tetapi dari harga bensin, inflasi, dan dampak perang yang mereka rasakan langsung di dompet mereka.
Kesimpulan
Menjelang pemilu paruh waktu 2026, Trump menghadapi kombinasi masalah yang berbahaya: dukungan ekonomi melemah, harga energi naik, perang luar negeri memicu kemarahan publik, dan basis internal Partai Republik mulai retak.
Jika kondisi ini tak segera dibalik, maka November 2026 bisa menjadi momen penting yang menentukan apakah Trump masih kuat secara politik, atau justru mulai kehilangan kendali atas dukungan rakyat Amerika.













