Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA AS) terhadap kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dinilai menjadi angin segar bagi pasar keuangan Indonesia.
Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pekan depan.
“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.170 sampai 7.861, dan resistance di level 8.251 sampai 8.596,” ujar Hans di Jakarta, Minggu.
Tarif Global 10 Persen Dinilai Tidak Terlalu Berat
Hans menilai langkah Trump menetapkan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari juga menjadi sentimen positif. Angka tersebut dianggap tidak terlalu tinggi sehingga tidak membebani perdagangan global secara signifikan.
Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat turut menjadi perhatian pelaku pasar. Data Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS tercatat hanya tumbuh 1,4 persen pada kuartal IV-2025, sedangkan secara tahunan tumbuh 2,2 persen sepanjang 2025.
Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) masih tinggi. Kondisi ini membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada Juni 2026 menurun.
Meski demikian, pelaku pasar masih berharap ada dua kali pemotongan suku bunga sepanjang tahun ini.
Harga Minyak dan Konflik AS-Iran Bayangi Pasar
Hans juga menyoroti volatilitas harga minyak global yang dipengaruhi potensi konflik antara AS dan Iran, serta pembahasan pasokan oleh OPEC+.
“Volatilitas minyak masih tinggi akibat ketidakpastian potensi serangan AS ke Iran,” ujarnya.
Ketidakpastian geopolitik ini tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai investor.
OJK dan BI Jaga Stabilitas Dalam Negeri
Dari dalam negeri, Hans menilai langkah proaktif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) sebagai tindak lanjut ultimatum MSCI cukup untuk menghindari ancaman penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Kebijakan tersebut diperkuat oleh langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026, sesuai ekspektasi pasar.
Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter ini dinilai menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak global.
Pemerintah: Indonesia Siap Hadapi Segala Kemungkinan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipatif sebelum tarif resiprokal Trump dibatalkan MA AS.
Menurutnya, pemerintah sudah melakukan negosiasi sehingga tarif yang semula 32 persen turun menjadi 19 persen. Setelah keputusan MA, tarif berpotensi turun lagi menjadi 10 persen.
“Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan. Kita sudah sedia payung sebelum hujan,” tegas Teddy di Washington DC.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta agar produk unggulan Indonesia tetap mendapatkan tarif impor 0 persen sesuai kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Komoditas seperti kopi, kakao, produk agrikultur, tekstil, dan pakaian jadi diharapkan tetap bebas tarif meskipun AS menerapkan tarif global 10 persen.
Dengan dinamika global yang mulai mereda dan dukungan kebijakan dalam negeri, pasar keuangan Indonesia dinilai memiliki peluang untuk tetap stabil bahkan menguat dalam jangka pendek.












