Militer Amerika Serikat mengonfirmasi tiga jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh di wilayah Kuwait dalam pertempuran aktif melawan Iran.
Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) menyebut insiden ini sebagai “tembakan salah sasaran” atau friendly fire.
Jatuh Saat Operasi Gabungan Lawan Iran
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menjelaskan bahwa ketiga pesawat tersebut sedang menjalankan misi mendukung Operasi Epic Fury, operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel menghadapi serangan Iran.
Di tengah situasi pertempuran aktif yang melibatkan rudal balistik, drone, dan serangan udara Iran, jet tempur Angkatan Udara AS justru secara tidak sengaja ditembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
“Selama pertempuran aktif, jet tempur Angkatan Udara AS secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait,” demikian keterangan resmi CENTCOM.
Puing Pesawat Jatuh di Kilang Minyak
Laporan menyebutkan puing-puing salah satu jet jatuh di area kilang minyak Mina Al Ahmadi, salah satu fasilitas vital di Kuwait. Insiden ini sempat memicu kekhawatiran soal potensi gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan Kuwait juga mengakui adanya beberapa pesawat militer AS yang jatuh dalam situasi konflik yang melibatkan serangan Iran.
3 Tentara Tewas, 5 Luka-Luka
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataannya pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat, mengonfirmasi adanya korban jiwa.
Trump menyebut tiga tentara tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Sementara itu, enam awak pesawat dari tiga jet F-15 dilaporkan berhasil melontarkan diri dengan selamat sebelum pesawat jatuh. Mereka telah dievakuasi dan dalam kondisi stabil.
Sedang Diselidiki
CENTCOM menegaskan bahwa insiden ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Pihak militer AS juga menyampaikan terima kasih atas bantuan pasukan pertahanan Kuwait dalam proses evakuasi dan pengamanan lokasi.
Insiden tembakan salah sasaran ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas.
Bagi masyarakat global, khususnya kalangan menengah ke bawah, konflik ini berpotensi berdampak pada kenaikan harga minyak dunia, yang bisa berimbas pada harga BBM dan kebutuhan pokok.
Perkembangan terbaru dari konflik ini masih terus dipantau, sementara dunia menunggu hasil investigasi resmi atas jatuhnya tiga jet tempur canggih milik Amerika tersebut.












