Jakarta — Kantor berita internasional Reuters melaporkan bahwa Indonesia dan Pakistan tengah mendekati kesepakatan kerja sama pertahanan yang mencakup penjualan jet tempur dan drone serang. Laporan itu diterbitkan Reuters pada Senin (12/1/2026) dengan judul “EXCLUSIVE-Pakistan and Indonesia closing in on jets and drones defence deal, sources say”.
Dalam laporan tersebut disebutkan, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Kepala Angkatan Udara Pakistan, Air Chief Marshal Zaheer Ahmed Baber Sidhu, di Islamabad. Pertemuan itu membahas potensi pembelian jet tempur dan drone produksi Pakistan untuk memperkuat pertahanan Indonesia.
Reuters mengutip keterangan dari tiga pejabat keamanan yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut. Salah satu sumber menyebutkan, diskusi berfokus pada kemungkinan penjualan jet tempur JF-17 Thunder, pesawat multiguna yang dikembangkan bersama Pakistan dan China, serta drone pengintai dan drone serang.
Dua sumber lainnya mengungkapkan bahwa pembicaraan sudah berada pada tahap lanjut dan melibatkan lebih dari 40 unit jet JF-17. Indonesia juga dikabarkan tertarik pada drone Shahpar, salah satu drone andalan buatan Pakistan. Namun, detail jadwal pengiriman dan durasi kontrak belum diungkapkan.
Kemenhan RI dan Militer Pakistan Buka Suara
Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi adanya pertemuan tersebut. Juru Bicara Kemenhan RI, Brigjen Rico Ricardo Sirait, mengatakan pembahasan masih bersifat umum.
“Pertemuan difokuskan pada kerja sama pertahanan secara luas, termasuk dialog strategis, penguatan komunikasi antarinstansi pertahanan, serta peluang kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan,” ujarnya kepada Reuters.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa belum ada keputusan konkret yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Militer Pakistan juga mengonfirmasi bahwa Menhan RI bertemu dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir. Dalam pernyataannya, pertemuan itu membahas kepentingan bersama, dinamika keamanan regional dan global, serta upaya memperkuat kerja sama pertahanan bilateral.
Jet JF-17 hingga Pelatihan TNI AU
Sumber keamanan lain menyebutkan, Pakistan menawarkan paket kerja sama yang lebih luas, termasuk sistem pertahanan udara, pelatihan perwira dan teknisi TNI AU, serta dukungan teknis jangka panjang.
Pensiunan Air Marshal Asim Suleiman mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan dengan Indonesia masih dalam proses dan jumlah jet JF-17 yang dibahas mendekati 40 unit.
Presiden RI Prabowo Subianto sendiri sebelumnya melakukan kunjungan dua hari ke Pakistan untuk membahas peningkatan hubungan bilateral, termasuk kerja sama di sektor pertahanan.
Indonesia Perkuat Angkatan Udara
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang gencar memperkuat kekuatan udara. Pada 2022, Indonesia memesan 42 unit jet Rafale buatan Prancis senilai 8,1 miliar dolar AS. Tahun lalu, Indonesia juga menandatangani pembelian 48 unit jet tempur KAAN dari Turkiye.
Selain itu, Indonesia masih mempertimbangkan pembelian jet J-10 buatan China dan melanjutkan pembicaraan untuk pengadaan F-15EX buatan Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya mengganti armada lama TNI AU.
Industri Pertahanan Pakistan Makin Dilirik
Di sisi lain, industri pertahanan Pakistan tengah mengalami peningkatan minat dari berbagai negara. Hal ini terjadi setelah jet tempur mereka dikerahkan dalam konflik singkat dengan India tahun lalu.
Jet JF-17 menjadi sorotan utama, termasuk dalam kesepakatan dengan Azerbaijan dan kontrak senjata senilai 4 miliar dolar AS dengan Tentara Nasional Libya. Pakistan juga membidik kerja sama pertahanan dengan Bangladesh serta melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi terkait kesepakatan bernilai 2–4 miliar dolar AS.












