JAKARTA, behzad.id — Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham emiten teknologi PT Multipolar Tbk (MLPT) mulai 21 Juli 2026. Intervensi mendadak ini dilakukan setelah harga saham MLPT meroket drastis hingga 410 persen, sebuah pergerakan ekstrim yang dinilai sudah tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan secara wajar.
Langkah tegas ini diambil guna mencegah fluktuasi harga yang makin liar sekaligus menjaga stabilitas pasar modal nasional. Pembekuan transaksi secara mendadak ini pun langsung memukul likuiditas para pelaku pasar serta menjadi sorotan utama hingga memuncaki tren pencarian di Google Trends Indonesia.
Pencaplokan Rp1 Triliun Jadi Pemicu Utama
Pemicu utama di balik lonjakan gila-gilaan saham MLPT ini adalah aksi korporasi skala besar. PT Star Pacific Tbk (LPLI), perusahaan asal Singapura, kedapatan mencaplok 14,76 juta lembar saham MLPT.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia per 21 Juli 2026, nilai transaksi pemborongan saham tersebut fantastis, yakni mencapai Rp1 triliun. Aksi borong saham dalam jumlah raksasa ini langsung memicu panic buying dan aksi spekulasi masif, baik dari kalangan investor institusi maupun investor ritel.
Resmi Stock Split 1:25 Buat Saham Lebih ‘Murah’
Di saat yang bersamaan, MLPT juga mengeksekusi rencana aksi korporasi lainnya, yaitu pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:25.
Sesuai keterbukaan informasi yang disampaikan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari, penyesuaian harga teoretis saham MLPT dalam sistem JATS mulai berlaku pada 21 Juli 2026.
Rincian Aksi Stock Split MLPT:
Harga Cum Terakhir (20 Juli 2026): Rp25.950 per lembar (nilai nominal Rp100).
Harga Teoretis Baru: Rp1.040 per lembar (disesuaikan dengan fraksi harga JATS dari perhitungan matematis Rp1.038).
Nilai Nominal Baru: Rp4 per lembar.
Jumlah Saham Beredar: Melonjak dari 1,87 miliar lembar menjadi 46,87 miliar lembar.
Manajemen MLPT menegaskan bahwa stock split ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, meredam volatilitas, serta memperluas akses bagi investor ritel agar harga saham perseroan menjadi jauh lebih terjangkau tanpa mengubah nilai ekonomi maupun proporsi hak kepemilikan pemegang saham.
Efek Domino ke Saham Induk (MLPL) dan Fenomena ‘Salah Beli’ Investor Ritel
Euforia yang melingkupi MLPT ternyata menjalar deras ke saham induk usahanya, PT Multipolar Tbk (MLPL). Dalam beberapa pekan pertengahan Juli 2026, saham MLPL mencatatkan penguatan mingguan mendekati 10 persen dan beberapa kali melonjak dua digit secara harian—seperti pada Kamis (16/7/2026) saat melesat 10,98 persen ke level Rp91.
Namun, para pengamat pasar mengingatkan investor agar tidak terburu-buru termakan euforia (FOMO). Kenaikan tajam saham MLPL disinyalir terjadi karena dua faktor utama yang bukan bersumber dari kinerja riil perusahaan:
-
Efek Valuasi Kertas (Cross-Valuation): Sebagai induk usaha, kenaikan harga saham MLPT membuat nilai aset investasi MLPL melambung di atas kertas dalam laporan keuangan, meskipun arus kas operasional riilnya belum tentu membaik.
-
Kekeliruan Investor Ritel: Banyak investor pemula/ritel yang kerap terkecoh dan keliru membedakan kode saham MLPL dan MLPT karena kemiripan nama serta logo perusahaan dalam grup usaha yang sama.
Secara fundamental, kinerja MLPL sesungguhnya masih rapuh dengan margin laba bersih di zona negatif serta return on investment (ROI) yang tercatat minus. Kenaikan saham MLPL belakangan ini lebih cenderung merupakan pembalikan harga jangka pendek akibat efek domino ketimbang tren pertumbuhan bisnis yang kuat.
Himbauan bagi Masyarakat dan Investor Ritel
Menanggapi ketidakpastian dan volatilitas yang sangat tinggi di ekosistem saham Grup Multipolar ini, otoritas bursa diharapkan dapat terus meningkatkan pengawasan dan menerapkan mekanisme pengereman perdagangan (circuit breaker) yang lebih adaptif.
Bagi masyarakat umum dan investor pemula yang tertarik terjun ke pasar modal, peristiwa ini menjadi pengingat penting: selalu cermati kode emiten dan pelajari fundamental perusahaan sebelum membeli saham, agar tidak terjebak euforia sesaat yang berisiko merugikan modal Anda.













