BEHZAD.ID – Dua emiten rokok besar nasional, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), sama-sama mencatat pemulihan laba yang signifikan pada semester I 2026.
Meski sama-sama mengalami peningkatan profitabilitas, Gudang Garam dan HM Sampoerna menempuh strategi berbeda untuk memperbaiki kinerja.
Gudang Garam lebih mengandalkan efisiensi biaya, sementara HM Sampoerna mempertahankan pertumbuhan pendapatan sebagai penopang utama peningkatan laba.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas pada Rabu, 26 Agustus 2026, pendapatan Gudang Garam pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp41,2 triliun atau turun 7,2 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Namun, di tengah penurunan pendapatan tersebut, laba bersih Gudang Garam justru melonjak drastis menjadi Rp3 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 2.440 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi Biaya Dongkrak Laba Gudang Garam
Lonjakan laba Gudang Garam terutama ditopang oleh keberhasilan perusahaan menekan sejumlah beban operasional.
Harga pokok pendapatan atau cost of goods sold (COGS) tercatat turun 13,3 persen. Beban cukai juga berkurang 14 persen, sedangkan beban operasional atau opex merosot hingga 33,8 persen.
Efisiensi tersebut membuat struktur biaya Gudang Garam menjadi lebih ramping dan mendorong peningkatan profitabilitas perusahaan.
Net margin GGRM tercatat mencapai 7,2 persen, sementara EBIT margin berada di level 9,1 persen.
Analis MNC Sekuritas, Catherine Florencia M, bahkan menaikkan proyeksi laba bersih Gudang Garam untuk 2026 sebesar 32,3 persen.
Estimasi laba perusahaan untuk 2027 juga dinaikkan sebesar 20,9 persen.
Menurut Catherine, revisi tersebut dilakukan setelah kinerja Gudang Garam pada semester I 2026 jauh melampaui ekspektasi pasar.
Realisasi laba bersih sebesar Rp3 triliun tersebut telah mencapai 64,1 persen dari proyeksi MNC Sekuritas dan 68,5 persen dari estimasi konsensus untuk sepanjang 2026.
Pemulihan margin yang kuat serta efek basis rendah menjadi faktor pendukung lonjakan laba perusahaan.
Meski demikian, pendapatan GGRM masih turun akibat permintaan terhadap produk inti yang belum sepenuhnya pulih.
Jumlah Karyawan Gudang Garam Turun
Efisiensi tenaga kerja juga menjadi bagian dari strategi pengendalian biaya Gudang Garam.
Jumlah karyawan perusahaan per Juni 2026 tercatat sekitar 21.100 orang.
Jumlah tersebut turun dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencapai sekitar 27.000 orang.
Penurunan beban operasional juga didukung oleh pengurangan beban karyawan sebesar 27,2 persen.
MNC Sekuritas menilai struktur biaya Gudang Garam kini semakin ramping dan menjadi salah satu faktor utama pemulihan kinerja laba perusahaan.
HM Sampoerna Andalkan Pertumbuhan Penjualan
Berbeda dengan Gudang Garam, PT HM Sampoerna Tbk mencatatkan pertumbuhan dari sisi pendapatan.
Penjualan HMSP pada semester I 2026 mencapai Rp56,5 triliun atau meningkat 2,4 persen secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong laba bersih HM Sampoerna naik 97,1 persen menjadi Rp4,2 triliun.
Dari sisi profitabilitas, gross margin HMSP meningkat menjadi 18,8 persen.
Sementara itu, net margin HM Sampoerna mencapai 7,4 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan Gudang Garam yang berada di level 7,2 persen.
EBIT margin HMSP tercatat sebesar 9 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan HM Sampoerna masih mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan yang dihadapi industri rokok nasional.
HMSP juga dinilai unggul dari sisi skala bisnis dan produktivitas, termasuk tingkat pendapatan per karyawan yang lebih tinggi.
Saham GGRM Diburu Investor Asing
Sementara itu, saham Gudang Garam menjadi sorotan investor asing pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp37,83 miliar terhadap saham GGRM.
Seiring dengan transaksi tersebut, harga saham GGRM melonjak 6,53 persen ke level Rp20.800 per saham.
Volume perdagangan mencapai 4,28 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp87,66 miliar.
Penguatan saham tersebut terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya hasil tinjauan indeks MSCI periode Agustus 2026.
Saham GGRM tetap bertahan dalam indeks MSCI Small Cap, yang menunjukkan saham perusahaan tersebut masih diperhitungkan oleh investor global.
MNC Sekuritas Naikkan Rekomendasi GGRM Jadi Buy
MNC Sekuritas menilai peningkatan laba Gudang Garam memberikan sinyal positif bagi prospek perusahaan.
Seiring dengan kenaikan proyeksi laba, MNC Sekuritas meningkatkan rekomendasi saham GGRM dari sebelumnya hold menjadi buy.
Target harga saham Gudang Garam dipatok sebesar Rp24.700 per saham.
Target tersebut mencerminkan rasio price to earnings atau PE sebesar 10,2 kali untuk 2026 dan 8,9 kali untuk 2027.
Sementara price to book value atau PBV diproyeksikan berada di level 0,7 kali.
MNC Sekuritas menilai perbaikan laba yang ditopang oleh efisiensi biaya serta potensi imbal hasil dividen masih memberikan ruang bagi kenaikan harga saham GGRM.
Tarif Cukai 2027 Jadi Perhatian
Dari sisi kebijakan, Menteri Keuangan Purbaya mengindikasikan pemerintah belum berencana mengubah tarif Cukai Hasil Tembakau pada 2027.
Fokus pemerintah disebut akan bergeser pada upaya menjaga stabilitas industri dan memperketat pengawasan.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi membantu meredakan tekanan terhadap profitabilitas industri rokok, termasuk Gudang Garam.
Namun demikian, keberlanjutan pemulihan permintaan produk rokok masih menjadi perhatian investor dan analis.
MNC Sekuritas menilai pertumbuhan laba Gudang Garam saat ini masih lebih banyak didorong oleh efisiensi biaya dibandingkan ekspansi pendapatan.
Keberhasilan perusahaan menjaga efisiensi, memperbaiki struktur biaya, serta stabilitas kebijakan cukai akan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pertumbuhan laba Gudang Garam pada tahun-tahun mendatang.
Perbandingan kinerja semester I 2026 menunjukkan dua strategi berbeda. Gudang Garam berhasil mendongkrak laba melalui efisiensi biaya, sedangkan HM Sampoerna mengandalkan pertumbuhan penjualan dan skala bisnis untuk mempertahankan momentum kinerja.












