BEHZAD.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (29/6/2026). Pelemahan terjadi karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data penting ekonomi Indonesia yang dijadwalkan pada 1 Juli 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 75 poin atau 1,28 persen ke level 5.821. Pada awal perdagangan, indeks sempat dibuka di posisi 5.932,029, menyentuh level tertinggi 5.942,772, namun tekanan jual membuat IHSG turun hingga level terendah 5.800,289 sebelum penutupan.
Minim Sentimen Positif Jadi Penyebab IHSG Melemah
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pasar saham saat ini masih kekurangan sentimen positif yang mampu mendorong kenaikan indeks.
Menurutnya, investor masih memilih menunggu kepastian dari sejumlah indikator ekonomi nasional yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Data yang paling dinantikan pasar meliputi:
- Inflasi domestik
- Neraca perdagangan
- Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur
Ketiga indikator tersebut dijadwalkan dirilis pada 1 Juli 2026 dan diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Geopolitik Dunia Masih Membayangi Pasar
Selain faktor dalam negeri, sentimen global juga masih menjadi perhatian investor.
Nafan menilai perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih menyisakan ketidakpastian, terutama terkait implementasi kesepakatan damai serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Investor Asing Terus Melepas Saham
Tekanan terhadap IHSG juga berasal dari aksi jual investor asing yang masih berlangsung.
Pada perdagangan Senin, investor asing mencatat jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp854 miliar.
Secara year to date (YTD), nilai jual bersih asing di pasar saham Indonesia bahkan telah melampaui Rp80 triliun.
Nafan juga menyoroti menurunnya bobot Indonesia dalam indeks MSCI menjadi sekitar 0,45 persen, yang ikut memengaruhi aliran dana asing keluar dari pasar domestik.
Saham yang Paling Banyak Dijual Investor Asing
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual asing, antara lain:
- BBCA : Rp424 miliar
- BMRI : Rp98 miliar
- TLKM : Rp71 miliar
- BBRI : Rp54 miliar
- AADI : Rp43 miliar
Sementara itu, saham yang paling banyak dibeli investor asing meliputi:
- DSSA : Rp56 miliar
- PGAS : Rp40 miliar
- ANTM : Rp37 miliar
- BREN : Rp15 miliar
- BUMI : Rp13 miliar
Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah
Sepanjang perdagangan, tekanan jual mendominasi Bursa Efek Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan:
- 449 saham melemah
- 214 saham menguat
- 149 saham stagnan
Volume transaksi mencapai 15,485 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp9,101 triliun melalui 1.230.166 kali transaksi.
Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp10.205,349 triliun.
Investor Masih Menunggu Arah Baru Pasar
Pelaku pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati hingga data inflasi, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur resmi diumumkan pada awal Juli.
Jika data ekonomi menunjukkan perbaikan, peluang pemulihan IHSG masih terbuka. Namun apabila hasilnya berada di bawah ekspektasi pasar, tekanan terhadap indeks diperkirakan dapat berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: Artikel ini disusun sebagai informasi pasar dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Selalu lakukan riset dan analisis sebelum berinvestasi.













