banner
banner

Dari Sampah Jadi Cuan, Warga Jakarta Timur Bangun Ekonomi Sirkular dari Gang Sempit

Gambar Ilustrasi

JAKARTA – Tumpukan botol plastik, kardus bekas, ember pecah, hingga barang elektronik rusak yang dulu dianggap tidak berguna kini menjadi sumber manfaat ekonomi bagi warga Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Salah satunya dirasakan oleh Nita Putrini, seorang guru taman kanak-kanak (TK) yang tinggal di RT 08 RW 04. Selama dua tahun terakhir, ia rutin memilah sampah rumah tangga setelah mengikuti program pengelolaan sampah berbasis bank sampah yang digagas Ketua RT setempat, Taufiq Supriadi.

Awalnya, Nita mengaku tidak percaya bahwa memilah sampah akan memberikan manfaat nyata. Namun setelah mendapatkan edukasi mengenai konsep ekonomi sirkular, pandangannya berubah.

“Dulu saya pikir percuma memilah sampah karena akhirnya dicampur lagi. Setelah ada edukasi bank sampah, ternyata sampah punya nilai ekonomi,” ujarnya.

Dari hasil mengumpulkan berbagai jenis sampah anorganik selama satu tahun, mulai dari plastik, kertas, kemasan multilayer hingga barang elektronik rusak, Nita berhasil memperoleh sekitar Rp130.000.

Meski nilainya tidak terlalu besar, menurutnya hasil tersebut menjadi bukti bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan tambahan manfaat ekonomi bagi keluarga.

Tidak hanya sampah anorganik, sampah organik di rumahnya juga diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman hias dan pohon alpukat di halaman rumah.

Kebiasaan baru itu juga membantu mengurangi penumpukan sampah saat musim libur panjang, ketika layanan pengangkutan sampah tidak beroperasi selama beberapa hari.

“Kalau dulu sampah menumpuk dan bau sekali. Sekarang hampir tidak ada sampah yang tersisa di rumah,” katanya.

Peran Ketua RT Bangun Kesadaran Lingkungan

Di balik perubahan tersebut, terdapat peran besar Taufiq Supriadi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Sejak menjabat sebagai Ketua RT pada tahun 2023, Taufiq menjadikan isu lingkungan sebagai fokus utama pembangunan wilayah. Sekitar 80 persen program kerja yang dijalankannya berorientasi pada pengelolaan lingkungan dan peningkatan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Sementara itu, 20 persen program lainnya difokuskan pada digitalisasi pelayanan warga dan transparansi tata kelola lingkungan.

Menurut Taufiq, pengelolaan sampah bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk membangun sistem ekonomi sirkular yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di RT 08 RW 04, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang beroperasi setiap pekan. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang kemudian digunakan sebagai pakan ikan maupun ayam.

Program tersebut berhasil mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.

Berbagai produk berbasis lingkungan mulai bermunculan, seperti pupuk kompos, pupuk organik cair, perlengkapan urban farming, hingga produk makanan hasil budidaya lokal.

“Jika RT kuat, maka negara akan hebat. Kami ingin menunjukkan bahwa dari gang sempit, bisa lahir solusi besar bagi dunia,” ujar Taufiq.

Gang Sempit Disulap Jadi Kebun dan Kolam Ikan

Transformasi lingkungan di kawasan tersebut kini terlihat nyata. Gang-gang sempit yang sebelumnya identik dengan permukiman padat kini dipenuhi tanaman hijau, kebun sayur, dan kolam ikan.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pembangunan kolam ikan bertingkat di atas saluran drainase. Sistem tersebut memungkinkan drainase tetap berfungsi normal, sementara bagian atas dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele, nila, dan bawal.

Hasil panen ikan tidak hanya dijual untuk menambah pendapatan warga. Sebagian hasilnya juga dibagikan kepada lansia, ibu hamil, dan balita sebagai upaya mendukung pemenuhan gizi masyarakat sekaligus mencegah stunting.

Program bantuan pangan berbasis hasil budidaya lokal itu telah berjalan lebih dari dua tahun dan memberikan manfaat bagi puluhan warga secara berkala.

Jadi Sorotan Dunia

Keberhasilan membangun ekonomi sirkular berbasis komunitas di lingkungan RT 08 RW 04 bahkan menarik perhatian akademisi dan peneliti dari berbagai negara.

Konsep yang dikenal sebagai “Survival Architecture Indonesia” kerap menjadi bahan diskusi dalam forum internasional yang membahas aksi iklim berbasis masyarakat.

Bagi Taufiq, keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau pendanaan, tetapi juga oleh kesediaan warga untuk mengubah kebiasaan sehari-hari.

Mulai dari memilah sampah, membuat kompos, menanam pohon, hingga mengembangkan usaha kecil berbasis lingkungan, seluruh perubahan itu lahir dari langkah sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Kisah dari sudut Jakarta Timur ini membuktikan bahwa solusi atas persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat dimulai dari tingkat komunitas. Dari gang sempit yang dahulu dipenuhi sampah, kini tumbuh ekosistem ekonomi sirkular yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *