BEHZAD.ID – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tidak hanya memengaruhi pekerjaan di sektor perkantoran. Para ahli keamanan siber kelas dunia pun mulai mengkhawatirkan dampak AI terhadap profesi mereka.
Salah satunya adalah Valentina Palmiotti, atau lebih dikenal dengan nama “Chompie”, seorang ethical hacker yang baru saja meraih penghargaan individu terbesar dalam kompetisi peretasan bergengsi Pwn2Own Berlin 2026.
Chompie berhasil membawa pulang hadiah sebesar 70.000 dolar AS atau sekitar Rp1,2 miliar setelah sukses menemukan celah keamanan (bug) pada perangkat lunak. Namun di balik prestasinya, ia mengaku masa depan profesi ethical hacker kini semakin tidak pasti akibat pesatnya perkembangan AI.
“Saya ikut Pwn2Own tahun ini karena saya berpikir ini mungkin kesempatan terakhir saya,” ujar Chompie seperti dikutip dari BBC melalui KompasTekno.
Menurutnya, model AI terbaru seperti Claude Mythos dan GPT 5.5 Cyber kini berkembang sangat cepat. Teknologi tersebut sudah mampu membantu menemukan berbagai celah keamanan yang sebelumnya hanya dapat ditemukan oleh para peneliti keamanan siber.
Saat ini AI memang masih berfungsi sebagai asisten yang mempercepat proses analisis kode, pengujian sistem, hingga pencarian bug. Namun Chompie menilai kemampuan AI akan terus meningkat dan berpotensi menggantikan pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh ethical hacker.
Akibatnya, para peneliti keamanan siber harus bekerja lebih keras untuk menemukan kerentanan yang lebih kompleks dan belum mampu dideteksi oleh AI.
AI Bisa Kurangi Kebutuhan Hacker Tingkat Menengah
Dalam pekerjaannya sebagai peneliti keamanan di IBM X-Force, Chompie mengaku telah memanfaatkan berbagai alat berbasis AI, termasuk Claude Code, untuk mempercepat proses riset keamanan.
Meski sangat membantu, ia memperkirakan perkembangan AI akan mengurangi kebutuhan terhadap hacker dengan kemampuan tingkat menengah.
“Ke depan hanya peneliti keamanan siber terbaik yang mampu menemukan kerentanan rumit yang lolos dari pencarian AI,” ungkapnya.
Artinya, persaingan di dunia keamanan siber diperkirakan akan semakin ketat, sementara AI akan mengambil alih tugas-tugas yang bersifat rutin dan mudah.
Hacker Asal Taiwan Punya Pandangan Berbeda
Pandangan berbeda disampaikan oleh Orange Tsai, hacker asal Taiwan yang juga menjadi salah satu bintang dalam kompetisi Pwn2Own Berlin 2026.
Bersama timnya, Orange Tsai berhasil meraih hadiah fantastis sebesar 375.000 dolar AS atau sekitar Rp6,7 miliar berkat keberhasilannya menemukan jalur eksploitasi keamanan yang sangat kompleks.
Menurut Tsai, AI justru menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk mempercepat penelitian.
“AI terasa seperti asisten yang luar biasa. Saya bisa menggunakannya untuk melakukan riset lain ketika sedang beristirahat,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui AI telah memaksa para hacker dunia untuk terus meningkatkan kemampuan mereka agar tetap relevan.
Kreativitas Manusia Masih Sulit Digantikan
Walaupun AI berkembang sangat cepat, Orange Tsai menilai kreativitas, intuisi, dan kemampuan berpikir di luar kebiasaan masih menjadi keunggulan manusia dalam menemukan celah keamanan yang belum mampu dideteksi mesin.
Dengan kata lain, AI diperkirakan akan menjadi mitra kerja sekaligus pesaing bagi para profesional keamanan siber.
Ke depan, dunia keamanan digital diprediksi akan mengalami perubahan besar. Mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi AI diyakini memiliki peluang lebih besar untuk tetap bertahan di tengah pesatnya transformasi teknologi.













