IHSG Anjlok 1% ke 6.320, Rupiah dan Kebijakan BEI Jadi Sorotan

JAKARTA, BEHZAD.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, setelah sempat dibuka menguat dan berada di level 6.400-an.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 1,02% ke level 6.320,07 pada pukul 11.22 WIB. Sebelumnya, indeks sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.423,83, sebelum kemudian turun hingga level terendah 6.277,68.

Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya perhatian pasar terhadap kondisi geopolitik global, serta penantian hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

Rupiah Jadi Perhatian Investor

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pergerakan rupiah. Berdasarkan data yang dikutip dalam riset BRI Danareksa Sekuritas, kurs transaksi BI pada 22 September berada di sekitar Rp17.902 per dolar AS.

Kondisi tersebut membuat investor mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keputusan BI-Rate, tetapi juga pada arahan BI mengenai stabilitas rupiah dan ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Pasar juga mempertimbangkan kondisi suku bunga global yang diperkirakan masih bertahan tinggi dalam waktu lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer.

“Fokus pasar bukan hanya keputusan BI-Rate, tetapi juga guidance BI terkait stabilitas Rupiah dan ruang pelonggaran moneter di tengah higher-for-longer global,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, 22 September 2026.

RDG BI berlangsung pada 22-23 September 2026, sehingga keputusan dan komunikasi bank sentral menjadi salah satu perhatian utama investor.

Harga Minyak Tembus Sekitar US$100 per Barel

Selain rupiah, harga minyak dunia turut menjadi perhatian pasar.

Harga minyak Brent yang dikutip dalam data tersebut berada di sekitar US$100,57 per barel. Kombinasi antara kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap rupiah dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar saham Indonesia.

“Kombinasi oil dan rupiah tetap menjadi perhatian IHSG,” demikian catatan riset BRI Danareksa Sekuritas.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat harga minyak sekitar US$100 per barel dan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang masih tinggi sebagai bagian dari sentimen risk-off di pasar.

Kebijakan BEI tentang Harga Minimum Saham Ikut Disorot

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah perubahan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai batas minimum harga saham.

BEI akan mengubah batas minimum harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026.

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, perubahan tersebut terutama akan berdampak pada saham-saham berharga rendah. Sebanyak 46 saham yang saat ini berada di level Rp50 akan memiliki ruang perdagangan di bawah harga tersebut.

Perubahan aturan tersebut menjadi salah satu sentimen yang turut diperhatikan pelaku pasar menjelang penerapannya.

Konflik Global Masih Membayangi Pasar

Pergerakan IHSG juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan geopolitik global.

Riset MNC Sekuritas mencatat sejumlah perkembangan geopolitik menjadi perhatian pasar, termasuk konflik Rusia-Ukraina, rencana perundingan Amerika Serikat dan Iran, serta kunjungan kontingen China ke Amerika Serikat.

Harga minyak mentah juga bergerak pada kisaran sekitar US$92 hingga US$101 per barel, sehingga perkembangan geopolitik berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.

Di sisi lain, pasar global juga menghadapi kondisi suku bunga yang relatif ketat. Investor mencermati kebijakan bank sentral utama seperti The Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ).

IHSG Masuk Area Support

Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas mencatat area 6.290 sekaligus MA60 telah dicapai oleh IHSG.

Level 6.279 menjadi area support berikutnya yang perlu diperhatikan. Apabila level tersebut ditembus ke bawah, IHSG berpotensi bergerak menuju kisaran 6.186-6.201, sekaligus menutup gap yang masih terbuka.

MNC Sekuritas sebelumnya mencatat IHSG masih berada dalam tekanan jual dan mengidentifikasi area support 6.371 serta 6.279 dalam analisis perdagangan 22 September.

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat IHSG telah berada di bawah MA20 dan secara teknikal berpotensi menguji area support yang lebih rendah.

Investor Menunggu Keputusan Bank Indonesia

Dengan berbagai sentimen tersebut, perhatian pasar kini tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia 22-23 September 2026.

Investor akan mencermati bukan hanya keputusan mengenai suku bunga acuan, tetapi juga pernyataan BI mengenai stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter ke depan.

Pergerakan rupiah, harga minyak, kondisi suku bunga global, perkembangan geopolitik, serta perubahan kebijakan BEI menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar saham dalam waktu dekat.

Bagi investor, level IHSG dan perkembangan berbagai sentimen tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu dipantau sebelum mengambil keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *