banner
banner

Resmi Jadi Kepala BGN, Sudaryono Siap “Pacman”-kan Program Makan Bergizi Gratis

Kepala BGN Sudaryono (tengah), Gubernur Universitas RI Donny Ermawan Taufanto (kanan) dan Wakil Gubernur Universitas Yos Sunitiyoso (kanan) menyampaikan keterangan pers usai pelantikan pejabat baru di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono menjadi Kepala BGN menggantikan Nanik Sudaryati Deyang dan melantik Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur Universitas RI serta Yos Sunitiyoso sebagai Wakil Gubernur Universitas RI. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

JAKARTA – Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya tuntas. Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono sebagai Kepala BGN baru menggantikan Nanik Sudaryati Deyang yang mundur karena alasan kesehatan setelah 45 hari menjabat.

Pelantikan yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/7/2026) ini menempatkan mantan Wakil Menteri Pertanian tersebut di garis terdepan untuk mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tiga Alasan Kenapa Sudaryono Dipilih

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memaparkan ada tiga alasan kuat kenapa Presiden Prabowo menjatuhkan pilihan kepada Sudaryono.

Pertama, posisi BGN sangat strategis dan tidak boleh dibiarkan kosong dalam mengawal program prioritas pemerintah. Kedua, Sudaryono bukan orang baru dalam konsep MBG. Ia sudah terlibat sejak awal, mulai dari diskusi, menggagas ide, hingga menyusun konsep teknis pelaksanaan di lapangan.

“Tentu dengan berbagai dasar dan pertimbangan bahwa selama ini beliau sejak awal mengikuti konsep dari dilahirkannya program Makan Bergizi Gratis ini,” ujar Prasetyo.

Ketiga, latar belakang Sudaryono sebagai Wamenan sangat relevan. Pasalnya, ketersediaan bahan baku pangan untuk MBG selama ini ditopang oleh ekosistem Kementerian Pertanian.

“Memberikan Makan Bergizi Gratis itu tidak pernah lepas dari tugas beliau di Kementerian Pertanian… sumber-sumber bahan pangan menjadi apa namanya dalam bentuk Makan Bergizi Gratis untuk para penerima manfaat ini memang di-support oleh Kementerian Pertanian,” papar Prasetyo.

Efek Pacman: Petani Tak Lagi Buang-Buang Hasil Panen

Usai dilantik, Sudaryono menyebut program MBG bukan sekadar urusan perut dan gizi, melainkan nyawa bagi perekonomian rakyat kecil, khususnya petani dan peternak.

Ia menggunakan analogi game legendaris Pacman untuk menggambarkan betapa besarnya daya serap program ini terhadap hasil pertanian lokal.

“Ini adalah program grande. Saya di beberapa kesempatan menyampaikan bahwa program ini tuh ibarat Pacman jadi apa-apa dimakan,” ujar Sudaryono.

Menurutnya, sebelum MBG ada, banyak petani yang mengalami kerugian karena hasil panen membludak dan tidak laku. Susu ditumpahkan, wortel dan sayuran dibuang begitu saja. Dengan adanya MBG yang menggelontorkan anggaran besar, hasil tani itu kini punya tempat.

“Kalau kita lihat dulu ada orang mandi-mandi susu sekarang insyaallah tidak ada lagi. Ada orang buang-buang wortel insyaallah tidak ada lagi… efeknya adalah dengan memberikan gizi tapi efeknya adalah meng-absorb ekonomi lokal khususnya peternak, nelayan, dan petani kita di daerah,” bebernya.

PR Berat: Dari Kasus Korupsi hingga Tantangan Sistemik

Di balik semangat baru yang dibawa Sudaryono, ada PR berat yang menunggu. BGN bukanlah lembaga biasa. Lembaga ini mengelola anggaran efisiensi sekitar Rp 229 triliun untuk menyukseskan program yang menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada 2026.

Publik tentu masih ingat betul bagaimana tiga pimpinan BGN terdahulu—Dadan Hindayana, Brigjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, dan Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung—terjerat kasus dugaan korupsi proyek MBG. Kasus itu bahkan diikuti oleh sorotan soal kualitas makanan hingga keracunan massal.

Kehadiran Sudaryono dituntut untuk tidak hanya sekadar “mengganti kursi”, tetapi membenahi tata kelola secara sistemik. Organisasi sebesar BGN tidak boleh lagi tergantung pada satu figur, melainkan harus punya sistem data yang terintegrasi mulai dari petani, dapur masak, hingga piring siswa.

Tantangan utama Sudaryono adalah melakukan diagnosis menyeluruh: apakah masalah MBG ini ada pada data penerima manfaat, rantai pasok yang macet, atau koordinasi di lapangan yang kacau?

Bagi masyarakat menengah ke bawah, harapannya sederhana: program yang uangnya triliunan rupiah ini bisa benar-benar menyelimuti anak-anak sekolah dengan makanan bergizi yang aman, tanpa dikorupsi, dan sekaligus membuat kesejahteraan petani lokal meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *